Amien Rais: Pendidikan dan Karir Politik

thumbnail

Oleh: Pradhabasu

Aneh kiranya jika warga negara +62 tidak mengenal sosok yang satu ini. Ya, Mohammad Amien Rais, setidaknya selama tiga dekade terakhir, pribadinya sering menjadi sorotan publik. Pemikirannya tidak jarang menimbulkan kontroversi. Oleh Gus Dur, bersama dengan Syafii Maarif dan Nurcholis Madjid, ia disebut sebagai “Tiga Pendekar Chicago”. Tiga tokoh jebolan University of Chicago yang pikiran-pikirannya ‘melampaui’.

Pada tahun 1968, pria kelahiran Surakarta, 26 April 1944 ini menyelesaikan studinya di jurusan Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Satu tahun setelahnya, ia meraih gelar Sarjana Muda dari Fakultas Tarbiyah, IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Di masa kuliahnya, ia dikenal sebagai seorang aktivis ulung. Sebelum IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) berdiri, ia tercatat pernah menjadi Ketua LDMI HMI Yogyakarta. Ketika wacana pendirian IMM kian menguat, perannya tidak bisa diragukan. Pada Munas IMM tahun 1967 di Banjarmasin, dari 17 calon formatur, ia masuk 5 teratas. Dua kali ia diamanahi menduduki jabatan Ketua DPP IMM Bidang Politik.

Karir intelektualnya berlanjut di luar negeri. Setelah menyelesaikan Program Master bidang Ilmu Politik di University of Notre Dame pada tahun 1974, Amien meraih gelar Doktor Ilmu Politik dari University of Chicago pada tahun 1981. Konsentrasi studi di bidang politik mengantarkannya menjadi pemikir dan aktor politik yang dikagumi dan dijadikan panutan. Ia mengenalkan konsep high politic. Politik, baginya, bukan sekedar ajang berebut kuasa.

Ketika Indonesia berada dalam darurat demokrasi, Amien tampil di garda terdepan. Ia dikenal sebagai satu di antara tokoh reformasi yang mempunyai pengaruh atas pemakzulan Soeharto setelah 32 tahun berkuasa. Bersama mahasiswa dari seluruh Indonesia, ia berhasil menggulingkan rezim Orde Baru. Atas perannya, sebutan “Bapak Reformasi” disematkan padanya.

Pasca jatuhnya Soeharto dan runtuhnya rezim Orde Baru, Amien Rais mendirikan partai politik yang diberi nama Partai Amanat Nasional (PAN). Keputusan ini menuntutnya untuk melepaskan jabatan sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah.

Saat ini, tidak sedikit yang masih salah kaprah mengenai hal ini. Dianggapnya PAN lahir dari rahim Muhammadiyah. Padahal, mengutip poin hasil Khittah Ujung Pandang 1971, dengan jelas disebutkan, “Muhammadiyah adalah Gerakan Dakwah Islam yang beramal dalam bidang kehidupan manusia dan masyarakat, tidak mempunyai hubungan organisatoris dengan dan tidak merupakan afiliasi dari suatu partai politik atau organisasi apapun”. Bahwa Muhammadiyah pernah bersinggungan dan ‘bermesraan’ dengan partai politik adalah benar, tapi tidak setelah Khittah Ujung Pandang disepakati.

Lepas dari jabatan Ketua Umum PP Muhammadiyah, pada tahun 1999, Amien membentuk koalisi Poros Tengah. Koalisi yang berisi partai-partai Islam tersebut berhasil mengantarkan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi Presiden. Sedangkan ia sendiri menjadi Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) periode 1999-2004. Ini menjadi jabatan politik tertinggi yang pernah diraih oleh Amien.

Saat itu, Indonesia menganut sistem parlementer, sehingga MPR menjadi lembaga tertinggi negara. Di antara kewenangan yang dimiliki MPR adalah, lembaga ini bisa menaikkan dan menurunkan presiden. Pada periode itu, atas nama MPR, Presiden Gus Dur diturunkan dari jabataannya.

Turunnya Gus Dur dari jabatan Presiden di tangan MPR yang saat itu diketuai Amien Rais tak pelak menimbulkan gejolak. Bagaimana tidak, keduanya merupakan dua tokoh berkaliber dengan latar organisasi keagamaan terbesar di Indonesia. Amien berlatar belakang Muhammadiyah dan Gus Dur dengan latar belakang Nahdlatul Ulama.

Meskipun, naiknya Gus Dur sebagai Presiden dan Amien sebagai Ketua MPR sebenarnya ‘tidak ada’ sangkut pautnya dengan Muhammadiyah dan NU. Keduanya naik atas nama partai. Tapi apa mau dikata, peran dan kontribusi keduanya di Muhammadiyah dan NU begitu vital. Kesan bukan merupakan perwakilan organisasi menjadi buram.

Pada tahun 2004, berpasangan dengan Siswono, Amien maju menjadi calon Presiden. Sayangnya, ia tidak berhasil. Meski begitu, peran politiknya tidak sedikitpun meluntur. Ia masih sering menghiasi dinamika perpolitikan di Indonesia. Bahkan akhir-akhir ini, Amien sering mengeluarkan kosa kata yang mengundang polemik. Oleh beberapa pihak, Amien dinilai telah kehilangan ruh politik kelas tinggi yang ia gagas dan kenalkan.

Tetapi, benarkah demikian? Silakan disimpulkan sendiri. Yang jelas, hemat penulis, kontribusinya untuk persyarikatan dan negara tidak perlu diragukan. Tabik!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top