DAD AKBAR DARING IMM SLEMAN: Antara Keadaan, Tuntutan, dan Regenerasi Pimpinan

thumbnail

Oleh : Hisyam Abdi El Aziz*

DAD Akbar Daring IMM Sleman merupakan salah satu respon adaptif terhadap situasi pandemi. Pandemi Covid-19 yang merebak di Tiongkok pada akhir tahun 2019 mengakibatkan lumpuhnya berbagai aktivitas di belahan dunia lain tak terkecuali di Indonesia. Tepatnya pada 2 Maret 2020, untuk pertama kalinya pemerintah mengumumkan dua pasien positif Covid-19 di Indonesia. Sejak 14 Maret 2020, Pemerintah menetapkan kebijakan Covid-19 sebagai bencana nasional. Dalam lingkup Yogyakarta sendiri, Pemerintah Daerah menerbitkan Surat Keputusan Gubernur Yogyakarta tentang Penetapan Status Tanggap Darurat Bencana Corona Virus Disease 2019 atau Covid-19. Surat ini menetapkan status tanggap darurat bencana Covid-19 berlaku di DIY mulai 20 Maret hingga 29 Mei 2020 dan bisa diperpanjang sesuai dengan kondisi dan perkembangan yang terjadi.

Muhammadiyah sendiri telah mengeluarkan Maklumat terkait Covid-19 yang diterbitkan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada tanggal 14 Maret 2020 dengan Nomor: 02/MLM/1.0/H/2020 tentang Wabah Corona Virus Desease (Covid-19). Pada saat yang sama, Muhammadiyah juga menerbitkan surat keputusan Nomor 2825/KEP/1.0/D/2020 Tentang Pembentukan Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC). Setelah melihat angka kasus Covid-19 yang tak kunjung menurun, Muhammadiyah menetapkan 3 kebijakan strategis dalam menangani Covid-19 yaitu mengefetifkan social/physical distancing, pembentukan MCCC, serta bersinergi dengan pemerintah dan semua kalangan dalam menghadapi Covid-19.

Respon IMM terhadap situasi Pandemi Covid-19

IMM sebagai salah satu organisasi otonom Muhammadiyah yang bergerak di ranah keagamaan, kemahasiswaan, dan kemasyarakatan juga tak dapat mengelak dari Wabah Pandemi Covid-19 ini. Segala kegiatan yang bersifat mengumpulkan massa akhirnya terpaksa ditunda melalui Maklumat DPP IMM terkait penyebaran Virus Covid-19 dan antisipasi pencegahan yang termuat dalam nomor: 036/A-5/2020. IMM Sleman sendiri menerbitkan  Surat Pernyataan Sikap Nomor: 083/A-5/XII/2020. Adapun kegiatan IMM Sleman yang terpaksa ditunda diantaranya adalah Rangkaian acara Milad IMM ke-56, Musyawarah Komisariat (Musykom), Progresif Institute (PI), dan Darul Arqam Dasar (DAD) yang sedianya akan dilaksanakan pada bulan Maret sampai April 2020. Satu hal yang menjadi problem utama adalah penundaan DAD yang merupakan perkaderan utama yang harus dilalui calon peserta (kader baru) untuk bisa menjadi anggota resmi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Adanya pandemi Covid-19 ini menjadi polemik tersendiri bagi Pimpinan Cabang dan Komisariat untuk tetap menjaga regenerasi pimpinan.

Berbagai macam diskusi akhirnya diadakan untuk merespon polemik DAD ini. Diantaranya adalah diskusi yang diadakan oleh Bidang Kader DPD DIY pada bulan Oktober 2020 dengan mengundang Immawati Fatmawati selaku Sekertaris Bidang Kader DPP IMM, Immawan Ari Susanto selaku Instruktur Purna dan perwakilan dari MPK Muhammadiyah Yogyakarta sebagai pemateri. Dalam diskusi itu pemateri menekankan bahwa transfer nilai, transfer ilmu, dan transfer skill dari Instruktur ke peserta yang merupakan ketercapaian target DAD haruslah menjadi tujuan utama penyelenggaraan DAD baik secara online maupun offline. Penyelenggaraan DAD secara offline maupun online memang masih menjadi perdebatan di berbagai level pimpinan khususnya bagi Pimpinan Cabang dan Komisariat selaku penyelenggara DAD. Hal ini terkait dengan problematika manajemen dan pelaksanaan perkaderan IMM yang harus dikaji dengan serius dan mempertimbangkan banyak faktor yang ada. Akhirnya pada 28 Desember 2020 Panduan Perkaderan Pandemi resmi diterbitkan oleh DPD IMM DIY melalui Surat Keputusan Nomor: 272/A-1/XII/2020 yang bisa menjadi rujukan manajemen perkaderan dalam situasi krisis seperti halnya pandemi. Hal ini menjadi angin segar bagi Pimpinan Cabang dan Pimpinan Komisariat termasuk PC IMM Sleman.

Dengan mempertimbangkan hak dan tuntutan kader, roda kepemimpinan yang mau tak mau harus diteruskan, telah terbitnya Panduan Perkaderan Pandemi oleh DPD IMM DIY dan banyak pertimbangan lainnya maka IMM Sleman akhirnya mengadakan DAD Akbar dengan konsep daring (dalam jaringan) dengan menggunakan Zoom sebagai platform utamanya. DAD ini disebut “DAD Akbar Daring” karena diselenggarkan oleh 5 Pimpinan Komisariat (PK) dalam lingkup IMM Sleman yaitu PK IMM Adab dan Ilmu Budaya, PK IMM Universitas Indonesia (UII), PK IMM Syariah dan Hukum, PK IMM Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, dan PK IMM Ushuluddin dan Pemikiran Islam dan dilaksanakan via daring/online. Total kader yang mendaftar menjadi peserta adalah sebanyak 93 kader.

Pelaksanaan DAD Akbar Daring IMM

DAD Akbar Daring IMM Sleman ini mengusung tema “Internalisasi Ideologi Ikatan Demi Mewujudkan Kader IMM Sleman yang Dinamis dan Responsif menghadapi perkembangan zaman”. Tentu penentuan tema ini mempunyai tujuan tertentu diantaranya adalah; (1) Internalisasi Ideologi Ikatan, yang menyangkut Ideologi Keislaman, Kemuhammadiyahan, serta Ke-IMM-an. Harapannya, kader yang mengikuti DAD ini dapat menyerap ilmu sebanyak-banyaknya dari pemateri terkait hal Ideologis dan pada akhirnya kader ini dapat terlahir kembali dengan konsep Ideologi yang matang.  (2) Terwujudnya kader yang Dinamis dan Responsif menghadapi perkembangan zaman. Adanya pandemi Covid-19 membuat digitalisasi semakin dekat dan bahkan tak terelakkan. Ditambah lagi dengan semakin cepatnya zaman berubah. Maka dari itu saat ini IMM membutuhkan kader yang dinamis, yaitu seseorang yang cepat bergerak dan menyesuaikan diri dengan keadaan di sekitarnya serta responsif, yaitu bersifat menanggapi, peduli, dan tidak masa bodoh dengan perkembangan zaman.

Konsep DAD yang diadakan secara daring juga tidak serta merta melupakan target yang ingin dicapai yaitu transfer nilai, ilmu, dan skill. Hal ini yang menimbulkan banyak keraguan karena biasanya DAD diadakan secara offline dan ketercapaian target tersebut dapat dimaksimalkan. Untuk menjawab tantangan tersebut, dan karena penyelenggaraan DAD secara offline masih menemukan banyak masalah pada perizinan, dana, dan lainnya akhirnya lahirlah konsep bagaimana kader dapat dipantau Instruktur secara intensif. Jika dicermati lebih dalam, pelaksanaan DAD Akbar ini kurang lebih menghabiskan waktu sekitar 2 bulan. Dalam waktu 2 bulan tersebut, materi yang disampaikan hanyalah 1 kali dalam satu pekan. Namun, akan ada mentoring atau pendampingan khusus dari Instruktur dalam jeda 1 materi ke materi berikutnya sekitar 2-3 kali pertemuan. Jadi, dalam 1 pekan, akan ada 1 materi pokok dan 2-3 kali pendampingan. Dalam mentoring tersebut, kader diharuskan berdiskusi, membaca buku, dan mengerjakan tugas dari Instruktur. Disinilah bagaimana Instruktur dapat memantau secara langsung perkembangan kader.

Hingga di tahap pembaiatan, dari 93 kader yang mendaftar, tersisa 75 kader terbaik yang bertahan. Kader pilihan yang telah melewati berbagai dinamika dan telah berjuang dalam berproses dalam tubuh IMM meskipun dengan konsep yang baru. Nyatanya, DAD Akbar Daring yang pada awalnya sempat diragukan banyak pihak ini tetap dapat mengusahakan tercapainya target yang ada dan dapat menghasilkan beberapa hal yang membawa nilai lebih seperti lahirnya komunitas menulis IMM Sleman yang dibina langsung oleh Farhan Aji Dharma (CEO Penerbit Timur-Barat) dan Ridha Basri (Redaktur Suara Aisyiyah), lahirnya komunitas Public Speaking yang dibina langsung oleh Coach Ahmad Sahab (Kuncoro Leadership Trainer), lahirnya desainer-desainer handal dalam lingkup IMM Sleman serta yang paling utama adalah lahirnya Kader Sleman yang mempunyai wawasan Ideologi yang matang serta dinamis dan responsif menghadapi perkembangan zaman.

Semoga apa yang telah kita usahakan ini dapat membawa banyak manfaat di kemudian hari. Aamiin.

Billahi sabililhaq, Fastabiqul Khairat.

*Ketua Bidang Perkaderan PC IMM Sleman 2019/2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top