Demonstrasi melalui Tagar, Ruang Publik Baru dalam Dunia Maya

Oleh : Savira A (Kader IMM Fishum)

Pengesahan RUU Cipta Kerja menuai polemik di masyarakat sehingga memicu adanya demonstrasi pada ruang publik dari berbagai elemen. Di tengah pandemi Covid-19 ini, pergolakan perlawanan dari masyarakat tidak dapat dipadamkan. Demonstrasi dilaksanakan secara konvensional mau pun secara daring.

Demonstrasi secara daring dilakukan melalui penggunaan tagar (hashtag) mau pun menggunakan media lain seperti penulisan artikel. Bentuk demonstrasi ini banyak digunakan terutama oleh generasi saat ini yang merupakan digital native. Tidak dapat dipungkiri, generasi saat ini lebih akrab dengan media sosial. Sehingga media sosial pun turut menjelma menjadi ruang publik baru.

Berangkat dari realitas yang terjadi beberapa waktu terakhir, saya pun menuangkannya ke dalam tulisan. Inisiatif ini muncul mengikuti adanya perkembangan aksi demonstrasi penolakan UU Cipta Kerja. Demonstrasi dilakukan di berbagai wilayah Indonesia. Ada pun, demonstrasi juga dilakukan di dunia maya yang banyak digaungkan oleh akun-akun pemengaruh dan organisasi massa dari berbagai kalangan.

Apa itu ruang publik?

Ruang publik atau public sphere merupakan suatu konsep yang diformalkan oleh Jürgen Habermas. Ruang publik, meunurut Habermas, adalah ruang yang bebas dari ekonomi (market) dan politik (state). Konsep ruang publik terlahir di Eropa pada abad 18. Pada masa itu, kaum borjuis Eropa memanfaatkan kafe-kafe dan tempat berkumpul lainnya sebagai ruang diskusi. Konsep ruang publik ini lahir sebagai  tempat mengemukakan opini pada suatu kebijakan.

Habermas pun mengemukakan kriteria ideal yang menjadi sifat ruang publik. Pertama, ruang publik menghindari asumsi persamaan status. Sebab, menyetarakan kedudukan status antara masyarakat dengan otoritas yang berkuasa bukan suatu hal yang dipermasalahkan dalam ruang publik. Sebab, setiap orang memiliki kesempatan yang sama dalam mengkritisi suatu realitas pada masyarakat. Penyampaian opini secara objektif tersebut menjadi titik tekan pada ruang publik sehingga dapat dipertanggungjawabkan di dalam ruang diskusi.

Kedua, persamaan kepentingan dalam ruang publik memunculkan opini yang objektif sehingga terhindar dari kepentingan pribadi. Meski pun tidak dapat dipungkiri, adanya kemajemukan pemikiran dan kepentingan tersebut.

Ketiga, ruang publik bersifat inklusi. Setiap masyarakat memiliki kebebasan mengemukakan pemikiran masing-masing dan berpartisipasi dalam ruang publik.

Ruang Publik Virtual

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin canggih dapat membuka ruang kepada masyarakat untuk mengakses dan menyebarkan informasi melalui berbagai platform. Berbagai fitur yang ditawarkan tiap platform banyak menarik minat masyarakat. Segala aktivitas dalam kehidupan kita seolah terhubung dengan media sosial, termasuk dalam hal mengemukakan pendapat atau demonstrasi.

Ruang publik tidak hanya berupa “ruangan” sehingga muncullah ruang publik virtual. Masyarakat dapat berpartisipasi kapan saja dan di mana saja, karena ruang publik virtual ini dapat diakses melintasi masa dan ruang. Meski pun bukan fenomena yang tergolong baru, namun adanya demonstrasi di dunia maya masih menjadi hal yang menarik untuk dikaji bersama.

Berbeda dengan ruang publik konvensional, pengguna akun-akun platform di media sosial melakukan pertukaran informasi, menyampaikan opini, mengkritisi, hingga advokasi kebijakan pada kolom yang tersedia pada masing-masing platform. Masyarakat dapat dengan mudah menyampaikan opini mereka terhadap  realitas yang ada. Masyarakat pun dapat berperan sebagai koresponden dari suatu isu terkini.

Terdapat banyak bentuk demonstrasi melalui dunia maya. Salah satunya adalah melalui tagar-tagar yang diunggah dalam berbagai platform. Setiap pengguna media sosial dapat menyematkan tagar-tagar tersebut dalam aktivitas maya mereka. Tagar-tagar tersebut berfungsi sebagai sosialisasi isu-isu terbaru, suatu dukungan, atau dapat berupa suatu kritikan.

Melalui tagar-tagar tersebut, masyarakat dapat mengemukakan pendapat mereka atau mengadvokasi suatu kebijakan secara efektif. Terutama di masa pandemi seperti saat ini,  dimana demonstrasi konvensional sangat dibatasi. Demonstrasi melalui tagar ini menjadi salah satu alternatif sebagai suatu praktik demokrasi. Semakin banyak tagar yang diunggah di media sosial, semakin besar pula peluang isu tersebut terangkat dan menjadi isu yang mutakhir diperbincangkan. Diskusi kritis pun dapat berjalan sebab masyarakat dapat langsung mengakses melalui tagar-tagar yang beredar di linimasa media sosial.

Namun, ruang publik virtual ini pun memiliki kekurangan yaitu adanya framing media yang rentan memobilisasi massa yang mampu menciptakan opini publik sehingga rentan terjadi perang siber (cyber war). Selain itu, masyarakat juga dapat dengan mudah tergiring hoaks yang beredar. Sehingga, masyarakat pun harus cermat dalam memanfaatkan ruang publik virtual ini. Keabsahan informasi harus ditinjau terlebih dahulu sebelum menyebarkan informasi.

Demokrasi yang Sehat

Apabila membahas tentang demokrasi, kita juga akan berhadapan dengan hak setiap individu dalam suatu ranah sosial. Setiap individu memiliki kebebasan dalam menggunakan hak dan pikirannya. Kebebasan dalam mengemukakan pendapat, mengkritisi, dan menanggapi suatu isu. Adanya ruang publik pun merupakan suatu indikator “kesehatan” demokrasi. Dalam suatu institusi, demokrasi dapat dikatakan sehat apabila ruang publik di mana masyarakat bebas menyuarakan pendapat. Masyarakat dapat bebas membicarakan nasib negaranya dengan tujuan agar suara-suara masyarakat dapat tersampaikan agar kesejahteraan sosial tercapai. Matinya ruang publik adalah matinya demokrasi.

Situasi sosial politik di Indonesia baru-baru ini seharusnya dapat menjadi bahan refleksi bagi kita semua. Sudahkah kita bijak dalam memanfaatkan ruang publik tersebut? Apakah iklim ruang publik di negara kita sudah cukup baik untuk mengekspresikan pendapat?

DAFTAR PUSTAKA

Prasetyo, Antonius Galih. (2012). Menuju Demokrasi Rasional : Melacak Pemikiran Jürgen Habermas tentang Ruang Publik, Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik 16(2). 169-174.

Nasrullah, Ruli. (2012). Internet dan Ruang Publik Virtual, Sebuah Refleksi atas Teori Ruang Publik Habermas, Jurnal Komunikator 4(1). 33-35

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top