Dinamika dan Peranan Media untuk Gerakan dalam Masa Pandemi*

Oleh: Bidang Media dan Komunikasi PC IMM Sleman

Dinamika dan Peranan Media untuk Gerakan dalam Masa Pandemi, dari judul bahasan diskusi diatas kita bisa mendapatkan tiga kata kunci yaitu Gerakan, media digital dan pandemi. Bahasan ini dimulai dari situasi sekarang bahwa kita sudah memasuki era digital yang sudah cukup lama daripada era yang dulu yang mana masih berkutat pada masa tradisional dan analog. Misalnya, dulu kita bertukar pesan menggunakan surat, kemudian lebih canggih lagi menggunakan pager, namun pada sekarang ini kita bisa bertukar pesan dengan menggunakan teknologi digital seperti Whatsapp dan aplikasi yang lain.

Dinamika Digitalisasi Informasi dan Komunikasi

Salah satu ciri digitalisasi bidang informasi dan komunikasi adalah kita bisa memproduksi sendiri informasi. Apabila dulu informasi mempunyai saluran yang sedikit, sekarang kita bisa memiliki banyak saluran. Banyaknya saluran membuat setiap orang mampu memproduksi informasi sendiri tanpa menggunakan metode yang mampu dipertanggung jawabkan, sehingga hasil dari produksi informasi tersebut pun macam– macam ada yang berkualitas dengan menyajikan sebuah fakta, adapun yang tidak berkualitas dimana ia menyajikan fakta – fakta yang tidak benar atau bohong atau hoax.

Indonesia sudah memasuki waktu tujuh bulan masa pandemic terhitung sampai tanggal 16 September 2020 dan dalam kurun waktu tersebut kita disuguhkan informasi dan berita mulai dari pertambahan kasus maupun korban baru. Indonesia menududuki peringkat nomor dua jumlah korban Covid – 19 di ASEAN (satu tingkat dibawah Filipina).

Kita bisa merasakan perbedaan yang sangat signifikan antara pandemi dan sebelum pandemi. Mulai dari pekerjaan, pendidikan dan hampir semua lini bidang mendapatkan dampaknya. Kemudian timbulah pertanyaaan yang besar. Apa gerakan yang harus dilakukan? Bagaimana cara mengefektifkan media pada masa pandemi untuk mengeksekusi sebuah gerakan?

Solusi untuk kedua pertanyaan tersebut salah satunya bisa dilakukan dengan digital campaign atau kampanye digital. Setiap gerakan mau tidak mau pada saat ini mobilitasnya, aksi – aksinya, dan agenda – agendanya terhambat secara total, namun kita memiliki gagasan – gagasan atau ide ide yang bisa kita share atau kampanyekan secara digital. Lantas bagaimana agar kampanye bisa efektif dan baik untuk gerakan pada masa pandemi?

Jawaban tersebut ditemukan pada sebuah teori yang diusung oleh A. Sagerberg & L. Bennet pada tahun 2013 yang keduanya merupakan ilmuwan politik yang mengkaji gerakan politik dan gerakan social di era media baru atau media digital, mereka menangguhkan istilah “The Logic of Connective Action” atau aksi konektif, jika didunia nyata atau didunia langsung aksi yang dilakukan bersama disebut aksi kolektif yang melibatkan banyak orang, namun pada saat ini masa pandemic tidak bisa menggunakan aksi tersebut maka digunakanlah aksi konektif. Diambil dari kata connect atau menyambung yang juga sering digunakan pada istilah sehari – hari, sehingga memiliki pengertian aksi individu yang menggunakan media digital.

Kelebihan dari aksi tersebut karena memiliki basic aksi individu maka tidak perlu adanya ikatan atau komitmen berbeda dengan zaman dahulu apabila kita mempunyai aspirasi politik yang ingin disampaikan atau gagasan yang ingin disuarakan maka kita harus mengikatkan diri pada sebuah kelompok misalnya partai politik atau organisasi. Misalnya, jika dipartai politik minimal yang kita bisa lakukan adalah memilih kotak suara atau memilih calon – calon wakil rakyat yang seaspirasi dan segagasan dengan kita yang dirasa mampu melaksanakan hal tersebut.

Pada dunia digital tanpa terikat apapun kita bisa melakukan aksi, dengan jalan aksi konektif ini, kemudian timbul pertanyaan kedua apabila dibutuhkan komitmen dan ikatan lantas apa yang dilakukan? Contoh nyatanya adalah dari Twitter. Disana kita bisa diikatkan oleh sebuah kata kunci atau tanda pagar yang sering kita dengar dengan sebutan hashtag. Hebatnya media ini, kita bisa diorganisasikan bukan seperti organisasi yang lain maupun partai politik tapi kita diorganisasikan oleh media social itu sendiri, seperti yang disebutkan diatas Twitter itu berhasil mengumpulkan kita dalam satu ruang diskusi bahkan satu ruang perdebatan oleh satu kata kunci.

Misalnya PSBB atau Anies Baswedan gubernur DKI Jakarta, apabila kita meng-klik kata tersebut maka kita akan melihat cuitan – cuitan pada pengguna Twitter mengenai topik tersebut, tentu bakal ditemukan jawaban yang sangat bermacam – macam mulai dari yang pro hingga kontra. Kondisi ini sangat berbeda ketika berada di dunia nyata maka harus ada organisasi yang terstruktur untuk menyampaikan topik bahasan tersebut hingga harus mengerahkan masa. Namun di dunia digital, tidak perlu melakukan hal tersebut.

Masih tentang twitter, ditwitter sendiri memiliki aturan dan algoritma untuk mengolah data. Misal ternyata kata Anies Baswedan adalah kata yang sering digunakan, maka dikumpulkanlah dari individu – individu yang menggunakan kata tersebut untuk mengikat pada sebuah gagasan dan topik yang sama. Dari hal itu maka kita bisa mengikatkan diri pada pembahasan kata kunci tersebut misal Anies Baswedan kita tidak setuju maka kita akan ngetwit “Ah Anies Baswedan telat PSBB nih payah” atau malah setuju “Anies Baswedan mantap pak lanjutkan”.

Kemudian kelebihan konektif aksi ini bisa diorganisasikan pada jejaring media social apapun tidak hanya melalui twitter, instagram dan facebook. Bahkan aksi penggalangan dana pun bisa dilakukan dengan aplikasi pengumpulan uang atau crowd funding seperti Kitabisa.com atau Ayopeduli.id.

Mengenal Tipe-tipe Aksi digital

Tipe – tipe aksi digital masih menurut A. Sagerberg & L. Bennet ada tiga macam yang bisa direfleksikan mana yang cocok untuk diterapkan. Pertama, Crowd-enabled action yaitu aksi natural-individual yang diorganisasikan oleh media sosial lewat kata kunci dan/atau hashtag. Contoh isu PSBB total DKI Jakarta oleh Anies atau yang dulu Isu Penistaan Agama oleh Ahok, bisa disimpulkan tipe ini merupakan tipe aksi digital yang spontan, natural, dan individual. Baik itu aksi didunia nyata yang diberitakan oleh media online, kemudian media online tersebut membagikannya di media social lalu kemudian menuai komentar dari para netizen yang lain. Meskipun pasti ada yang pro dan kontra, maka otomatis akan menghasilkan ribuan bahkan jutaan komentar yang mana akan terkumpul pada satu kata kunci atau hashtag, seolah – olah ada ribuan manusia atau jutaan manusia bergerak pada satu gagasan yaitu yang berkomentar.

Kelompok pro terorganisasikan bahkan yang kontra pun akhirnya terorganisasikan juga, namun awal muasalnya dipicu oleh aksi individual atau perorangan dan itu bisa jadi natural. Misalnya Ahok kita sama sekali tidak tahu apakah itu disengaja atau disuruh orang atau tidak disengaja (natural), namun secara empiris bisa dilihat apa yang dilakukan Ahok ini adalah tindakan natural pada saat berpidato.

Kedua adalah tipe Organizationally-enabled action yaitu aksi formal-organisasional yang membuka partisipasi individu lewat media social, contoh: Solidaritas Pangan Jogja, Aliansi Rakyat Bergerak. Ini merupakan tipe aksi digital yang tidak spontan dan tidak dipicu oleh individu, namun direncanakan atau formal dan dilakukan oleh organisasi formal atau organisasi yang mapan, yaitu organisasi yang mempunyai struktur yang jelas ketua, sekertaris, bendahara, dan lain lain. Misalnya seperti IMM, organisasi yang memiliki AD/ART yang jelas, organisasi yang memiliki nilai dasar perjuangan mungkin trilogy bahkan tri kompetensi. Aksi tipe ini misalkan pada hari buruh IMM melakukan aksi dengan Long March atau membuat Panggung Rakyat di titik nol, dimana aksi ini diinisiasi dan didesain oleh sekelompok organisasi kemudian akan membuka partisipasi orang untuk mengikuti aksi tersebut, dalam hal ini mungkin media social IMM memposting pamflet atau gambar bahkan cuitan untuk melakukan aksi yang mana pasti akan menuai partisipasi orang – orang baik dalam kemauan untuk ikut bahkan komentar atau like sekalipun.

Ketiga, yaitu Organizationally-brokered action yaitu aksi formal-organisasional yang menggunakan media sosial sebagai corong, yang mana hampir sama seperti yang kedua namun hal ini sangat terperinci dan terstruktur dalam hal aksinya jadi tidak membuka partisipasi orang lain yang tidak sejalan dengan si pembuat aksi, seperti kontennya harus ini yang dibagikan, pamflet harus itu yang dibagikan dan lain sebagainya.

*Notula Diskusi Batas Suci #5 Oleh Fikri Fachrurrizal (Ketua Bidang RPK PC IMM Sleman 2015/ 2016)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top