IMM MENGAWAL LANGKAH KAUM MUSTAD’AFIN DI MASA DEPAN*

thumbnail

Oleh: Alif Nur Rohman (Kader FITK)

Sekapur Sirih Kaum Mustad’afin

Dalam kenyataan hidup sehari-hari, tidak dapat dipungkiri lagi bahwa ada orang yang kuat dan ada orang yang lemah, pintar dan bodoh, kaya dan miskin. Ada yang kuat, pintar, dan kaya karena hasil usahanya sendiri, tetapi ada yang kuat, pintar, dan kaya disebabkan oleh faktor-faktor lain di luar dirinya. Ada yang lemah, bodoh, dan miskin karena memang malas, tetapi juga banyak yang lemah, bodoh, dan miskin karena situasi dan kondisi yang menjadikannya demikian. Bahkan ada pula yang meyakini kalau kuat-lemah, pintar-bodoh, dan kaya-miskin itu adalah takdir “alias sudah dari sananya”.

Adanya keniscayaan fenomena lemah-kuat, pintar-bodoh, dan kaya-miskin saja tidak masalah selagi tidak ada kezaliman, penganiayaan, dan penindasan yang terjadi sebagai akibatnya. Pada kenyataannya kita sering menyaksikan orang atau pihak lemah dianiaya oleh pihak kuat. Sudah banyak media cetak atau elektronik menyajikan berita-berita mengenai hal demikian. Akibatnya, yang lemah semakin lemah sedangkan yang kuat semakin kuat.[1]

Orang yang dibuat lemah dalam tulisan ini disebut Kaum Mustad’afin. Secara etimologi, mustad’afin berasal dari kata dha’afa yang berarti hilangnya kekuatan baik fisik, jiwa, akal, dan pikiran serta kondisi.[2] Menurut pendapat Ibnu Manzur yang dikutip oleh Maryam, mustad’afin berarti berlangsungnya keadaan lemah pada sebuah objek yang sekaligus tertimpa keburukan, Indonesia mengenalnya dengan pepatah sudah jatuh tertimpa tangga. Istilah ini juga berarti orang yang mengalami pelemahan dan kesewenang-wenangan dari sekelompok manusia.[3]

Islam dan Keterpihakan kepada Kaum Dhuafa

Jika dipandang dalam konteks Islam, kita dapat menyebut kaum mustad’afin dengan bahasa yang paling pas ialah kaum minoritas. Memaknai minoritas itu bukan soal statistik atau angka, akan tetapi mereka yang tertindas, miskin, dan termarjinalkan. Mustad’afin merupakan orang yang lemah di muka bumi. Perintah untuk membela dan menemani mereka dalam bahasa agama sangat banyak di dalam al-Qur’an, misalnya dalam Q.S. an-Nisa’ ayat 75, bahwa Allah berfirman : Dan mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak yang berdoa, “Ya Tuhan Kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang penduduknya zalim. Berilah kami pelindung dari sisi-Mu dan berilah kami penolong dari sisi-Mu.”[4]

Secara umum, ketika al-Qur’an membicarakan mengenai kaum mustad’afin, sebenarnya al-Qur’an sedang membela atau mengharuskan pembelaan dan pembebasan atas kaum tersebut. Dalam konteks ini, al-Qur’an mengabarkan bahwa para Nabi merupakan para pembebas kaum mustad’afin. Misalnya, Musa adalah pembebas Bani Israil dari penindasan Fir’aun dan bala tentaranya. Demikian juga Nabi Muhammad adalah pembebas kaum yang tertindas oleh sistem sosial jahiliyah dan oleh para pemuka Quraisy penentang ajaran sosial agama Islam yang diserukan oleh Nabi Muhammad.[5]

Muhammadiyah dan Pemihakan Sosial

Sebagai suatu gerakan sosial keagamaan, Muhammadiyah ada dan berkiprah di tengah-tengah dunia realitas, bukan di ruang hampa. Oleh karena itu, Muhammadiyah dalam kesehariannya bertemu dan bertarung dengan persoalan-persoalan manusia dan kemanusiaan. Maka ketika kita membicarakan tentang peran Muhammadiyah, mau tidak mau, setuju tidak setuju, kita pasti akan membicarakan peran tersebut dalam konteks manusia dan kemanusiaan semesta.[6] Semangat menolong kesengsaraan umum menjadi satu ruh dakwah Muhammadiyah dari waktu ke waktu. Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan dari semangat tersebut lahirlah rumah sakit, poliklinik, panti asuhan, rumah miskin, rumah yatim, dan berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat. “Dasarnya ada pada surah al-Ma’un bahwa beragama itu harus terwujud dalam gerakan membebaskan, memberdayakan, dan memajukan masyarakat mustad’afin. Inilah dasar lahirnya teologi al-Ma’un sebagai teori pembebasan.” Ujarnya.[7]

Memahami Kenyataan

John Perkins dalam bukunya yang terkenal, Confesions of An Economic Hit Man, dengan gamplang melakukan “pengakuan dosa”. Secara menarik Perkins membongkar hasrat melakukan penghisapan sumber-sumber ekonomi yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan lintas negara (TNCs). Korporasi global memanfaatkan dukungan politik elit di negara-negara kaya dan lembaga-lembaga kreditor internasional menjadikan utang luar negeri sebagai instrument utama untuk mengakumulasi kekayaan dan menghisap sumber-sumber penghidupan rakyat. Kini kekuasaan TNCs telah menaklukan kekuatan ekonomi negara yang sesungguhnya diperuntukkan bagi menegakkan kedaulatan dan kesejahteraan rakyat.

Tentu saja kekuasaan TNCs yang besar seperti itu dimungkinkan terjadi karena ada perselingkuhan dengan elite nasional, kaum ‘komprador’. Perselingkuhan ini berakibat fatal bagi rakyat. Dapat ditemukan paling sedikit dua akibat langsung yang dialami masyarakat. Pertama, di dalam “pabrik-pabrik besar pemeras keringat”, para buruh dengan upah yang tidak layak dipaksa bekerja ekstra keras untuk terus meningkatkan produksi bagi mengejar keuntungan perusahaan sebesar-besarnya. Kedua, kegiatan industri, terutama di sektor perkebunan, pertanian, dan pertambangan yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan raksasa dan transnasional menjadi salah satu penyebab pemanasan global dan penghancuran lahan-lahan produktif masyarkat. Belum lagi akibat langsung yang ditimbulkan karena perubahan iklim yang drastis seperti kekeringan yang berkepanjangan, banjir yang terjadi hampir setiap tahun, longsor, badai. Semuanya menyengsarakan rakyat yang terus menerus mengalami proses pemiskinan.[8]

Belum lama ini juga Pemerintah menyusun RUU baru yang dinamakan Omnibus Law. Merujuk kepada pengertian dari Wikipedia bahwa Undang-undang sapu jagat atau undang-undang omnibus adalah istilah untuk menyebut suatu undang-undang yang bersentuhan dengan berbagai macam topik dan dimaksudkan untuk mengamandemen, memangkas dan atau mencabut sejumblah undang-undang lain. Konsep Omnibus Law yang disusun oleh pemerintah pun banyak berisikan pasal-pasal yang kontroversial terutama dalam bidang ekonomi yang jika di lakukan kajian lebih lanjut ternyata hanya akan merugikan rakyat. Selaras dengan apa yang dikatakan oleh John Perkins bahwa korporasi global memanfaatkan dukungan politik elit di negara-negara kaya dan lembaga-lembaga kreditor internasional menjadikan utang luar negeri sebagai instrument utama untuk mengakumulasi kekayaan dan menghisap sumber-sumber penghidupan rakyat. Tidaklah mengherankan jika terjadi banyak penolakan atas disahkannya RUU Omnibus Law baik dari kalangan mahasiswa maupun rakyat.

Peran IMM dalam Pembelaan Kaum Mustad’afin

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah telah melewati usia setengah abad lebih, tepatnya 56 tahun. Dan selama 56 tahun, IMM sudah melalui beberapa periodesasi zaman pemerintaahan yang berbeda-beda. Dari zaman orde lama, baru, hingga era reformasi sekarang ini. Banyak hal yang harus senantiasa direfleksikan oleh IMM, terutama memasifkan peran IMM baik terhadap persyarikatan, ummat, dan bangsa.

Tujuan IMM adalah mengusahakan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah. Dengan kata lain IMM merupakan organisasi kemahasiswaan yang menjadi wadah bagi mahasiswa sebagai wahana untuk mencapai tujuan Muhammadiyah, yakni menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Dalam hal itu, setidaknya ada empat wujud nyata yang harus dilakukan oleh IMM :

Pertama, Membangkitkan Spirit Intelektualitas. Salah satu ciri yang melekat pada diri mahasiswa adalah orang terpelajar. Tentu saja mahasiswa harus memiliki ghirah yang tinggi dalam menuntut ilmu. Dan nantinya dengan ilmu tersebut bisa bermanfaat bagi orang lain. Orang sering mengatakan mahasiswa adalah agen of change atau agen of social control. Namun pada kenyataannya sekarang, hanya segelintir mahasiswa yang mampu menggunakan ilmunya untuk membela kaum mustad’afin. Rasanya benar perkataan Ahmad Najib bahwa ternyata ber-IMM arusnya tidak jauh berbeda dari arus akademik, seperti mapan, tidak kritis, tidak menawarkan kebiasaan seorang calon orang-orang besar.[9]

Kedua, Membangkitkan Spirit Religiusitas. Layaknya Kiai Ahmad Dahlan yang dianggap sebagai salah satu pelopor modernitas pemikiran dan gerakan pembaruan di Indonesia yang berbasis pada kesadaran religiusitas. IMM juga harus memiliki spirit religiusitas seperti Ahmad Dahlan. Sebagai IMM mula-mula menjadikan diri sendiri menjadi sholeh, mempelajari agama Islam dengan benar teutama dalam ranah akidah serta mengamalkan ajaran agama Islam. Kemudian jika merasa sudah cukup dengan ilmu yang dimilikinya maka langkah selanjutnya yaitu menyeru kepada kebajikan, menyuruh berbuat yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar.

Ketiga, Membangkitkan Spirit Humanitas. Spirit humanitas menurut saya merupakan yang terpenting. Salah satu ayat al-Qur’an yang sering di kaji oleh Kiai Ahmad Dahlan dan muridnya adalah ayat sebagai respon permasalahan kemanusiaan, yakni surah al-Ma’un. Begitu sangat perhatiannya beliau terhadap permasalahan kemanusiaan misalnya keterbelakangan, kemiskinan, dan kebodohan. Sehingga sebagai mahasiswa dalam hal ini IMM, seharusnya juga memiliki jiwa kemanusiaan, rasa solidaritas yang tinggi dengan sesama manusia, dan mampu mempelopori serta menjadi teladan dalam perubahan yang terjadi di masyarakat.

Keempat, Menjaga Regenerasi Kepemimpinan IMM. Prinsip yang harus dipegang erat oleh kader IMM yaitu bahwa perjalanan masih panjang dan pekerjaan masih banyak. Seperti yang dikatakan diawal bahwa IMM telah melewati usia setengah abad lebih. Perjalanan tersebut tidak akan pernah berakhir karena pada perubahan zaman ada bibit-bibit kader baru yang akan memegang tonggak kepemimpinan IMM di masa depan. Pun pekerjaan masih banyak karena pada setiap perubahan zaman juga akan memunculkan realitas sosial yang baru dan penuh tantangan. Pada akhirnya, tugas kita saat ini adalah berupaya menyiapkan kader-kader yang akan memimpin haris esok sehingga rangkaian perjuangan IMM tidak akan pernah terputus.

Singkatnya, di usia IMM yang telah melewati setengah abad lebih ini, bagaimana kader IMM mampu membangun kepercayaan diri sebagai kader sejati. Jangan menunggu peran, kader IMM harus mengambil peran. Dalam perjuangan tidak ada kata terlambat, yang ada hanya kata tidak mau, karena satu-satunya yang dibutuhkan adalah kemauan yang kuat. Akhirnya, IMM harus lebih revolusioner atau berkemajuan.

*Juara 3 Essai Milad 56 PC IMM Sleman


[1] https://fahmina.or.id/al-quran-berpihak-pada-kaum-lemah-mustadhafin/ diakses pada 14 maret 2020 pukul 20.00 WIB

[2] Maryam Ulibaqiyyah Assalma. Pembebasan Kaum Mustad’afin Dalam Perspektif Islam (Majalah Batas Suci). Sleman. PC IMM Sleman. Hlm. 4.

[3] Ibid.

[4] Wildan Imaduddin. 2019. Ahmad Najib Burhani : Berpihak Kepada Mustad’afin Adalah Perintah Al-Quran. Dalam https://bincangsyariah.com/wawancara/ahmad-najib-burhani-berpihak-kepada-mustadhafin/ diakses pada 14 maret 2020 pukul 20.30 WIB

[5] Iffatus Sholehah. Keberpihakan Al-Qur’an Terhadap Mustad’afin. Living Islam : Journal Of Islamic Discourses. Volume 1. Nomor 1. Juni 2018.

[6] A. Syafii. Dkk. 2010. Menggugat Modernitas Muhammadiyah : Refleksi Satu Abad Perjalanan Muhammadiyah. Jakarta Selatan. Best Media Utama. Hlm. 78.

[7] https://www.google.com/amp/s/m.republika.co.id/amp/oppt1e368 diakses pada 14 maret 2020 pukul 20.30 WIB

[8] A. Syafii. Dkk. 2010. Menggugat Modernitas Muhammadiyah… hlm. 82-83.

[9] Gothank Wiyadi. Bangkit Dan Kawal Kaum Mustad’afin. (Majalah Batas Suci). Sleman. PC IMM Sleman. Hlm. 10.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top