IMM, Muhammadiyah, dan Ideologi Konservatif*

thumbnail

Oleh: M. Bagas Wahyu Pratama (Kader FDK)

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah telah menginjak usia yang ke 56 tahun. Usia yang sudah cukup matang bagi sebuah organisasi. Berbicara mengenai usia, semakin bertambahnya usia tentu semakin banyak pula tantangan dan hambatan yang harus dihadapi. IMM sebagai salah satu organisasi otonom dibawah Persyarikatan Muhammadiyah memang dibebani tugas untuk mencetak kader persyarikatan dalam rangka melaksanakan tujuan Muhammadiyah.

Mecetak kader merupakan salah satu tugas yang berat. Apabila melihat tantangan kaderisasi sekarang, paham Ideologi Islam Konservatif menjadi salah satu poin perhatian Muhammadiyah yang dinilai dapat merusak keorisinilan Ideologi Muhammadiyah itu sendiri. Muhammadiyah memang sedang berada ditengah pusaran paham ideologi keislaman dari berbagai penjuru dunia dan dikhawatirkan pemikiran-pemikiran yang tidak sejalan dengan Ideologi Muhammadiyah akan diterima secara mentah-mentah oleh kader-kader Persyarikatan. Tak terkecuali Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.

Model Perekrutan Kader

Organisasi mahasiswa dan kampus merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Mulai dari Unit Kegiatan Mahasiswa, Organisasi Mahasiswa, Lembaga Mahasiswa dan masih banyak lainnya. Organisasi sudah lama dipercaya menjadi sarana untuk mengembangkan potensi diri, dan memperbanyak jejaring relasi.

Sebagai salah satu organisasi mahasiswa, IMM juga menjadi salah satu organisasi yang ikut serta melebarkan sayapnya di berbagai kampus. Dengan membawa nama Muhammadiyah, IMM diharapkan dapat menjadi kawah candradimuka bagi calon-calon kader persyarikatan. Namun, fakta dilapangan, IMM kebanyakan hanya diisi oleh anak cucu kader Muhammadiyah yang memang dari hubungan genetisnya sudah mengalir darah Muhammadiyah sejak kecil.

Kondisi organisasi mahasiswa saat ini, khususnya dilihat dari sudut pandang Perguruan Tinggi Negeri, Organisasi Mahasiswa yang merupakan sayap dari organisasi masyarakat Islam Indonesia seperti IMM dari Muhammadiyah, PMII dari Nahdlatul Ulama, atau Himpunan Mahasiswa Islam dapat dikatakan masih kalah eksis apabila dibandingkan dengan Gerakan Tarbiyah, Gerakan HTI dan organisasi yang mengusung Ideologi Konservatif dan cenderung radikal. Gerakan mereka lebih masif menawarkan berbagai pelatihan softskill dan kepemimpinan yang akhirnya menunjang mereka untuk berdiaspora diberbagai titik pimpinan mahasiswa jurusan (HIMA) fakultas maupun universitas (BEM).

Hal itu disebabkan oleh kuatnya kultur perekrutan kader yang mereka miliki, mendesain dengan rapi, menarik perhatian mahasiswa baru dan menawarkan berbagai pengembangan potensi yang dapat mendukung skill kadernya. Tentu kader baru tidak akan peduli dengan Ideologi, mereka hanya membutuhkan pengembangan skill yang dapat meningkatkan kapasitas dirinya.

 Hal ini yang seharusnya menjadi perhatian bersama untuk IMM khususnya, mengenai bagaimana proses perekrutan kader, perkaderan didesain agar lebih menarik minat mahasiswa. Tidak hanya mengandalkan kader yang sudah memiliki gen Muhammadiyah saja, tetapi juga kalau bisa merekrut kader non-Muhammadiyah untuk masuk Muhammadiyah dan proses perkaderan yang baik diharapkan akan dapat mendukung tujuan Muhammadiyah kedepannya.

Pengaruh Sosial Media

Indonesia merupakan Negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Sejarah mencatat, masyarakat Indonesia memang tipe masyarakat yang sangat ramah dalam menerima segala informasi termasuk salah satunya adalah syiar agama Islam. Memasuki era digital, teknologi informasi berkembang sangat pesat. Berbagai macam paham keagamaan pun mulai masuk ke Indonesia melalui kemudahan akses di berbagai kanal sosial media.

 Dahulu, masyarakat mungkin hanya familiar dengan Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama atau paham Islam Kejawen, Kini, paham-paham Islam transnasional konservatif seperti Gerakan Islam Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Gerakan Salafi Wahabi, Gerakan Tarbiyah dan sebagainya banyak masuk kedalam pola pikir masyarakat Indonesia, tak terkecuali kader-kader IMM yang merupakan anak kandung dari Muhammadiyah. Dalam kajian ilmu sosiologi, maraknya media sosial erat hubungannya dengan bagaimana kita bersosialisasi, berteman, berinteraksi. Adanya media sosial, keterbukaan pola pikir serta kehausan seseorang akan ilmu membuat mereka acap kali menelan secara mentah-mentah isi ceramah atau kajian yang beredar luas di jejaring sosial media tersebut. Konten mereka yang dikemas secara apik dan menarik seolah-olah sejalan dengan misi dakwah Muhammadiyah yaitu purifikasi dan dinamisasi untuk menghapuskan TBC (Takhayul, Bid’ah, dan Khurafat). Padahal, Ideologi Muhammadiyah berbeda dengan Ideologi yang dibawa oleh gerakan Islam diatas. Meskipun, misi Muhammadiyah sejalan dengan paham-paham diatas yaitu kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Namun, ada beberapa aspek yang perlu digaris bawahi, Muhammadiyah membawa misi purifikasi Islam lebih pada aspek Aqidah dan Ibadah Mahdah tetapi melakukan modernisasi dan dinamisasi pada aspek Muamalah.

Diakui atau tidak, Muhammadiyah memang dapat dibilang kalah nama apabila dibandingkan dengan organsasi keislaman lainnya di bidang media dan IT. Muhammadiyah masih berfokus pada media cetak seperti majalah dan buku untuk keperluan penanaman ideologi atau membahas permasalahan agama. Sedangkan generasi Millenial khususnya di lingkungan mahasiswa, mereka lebih suka mengakses Instagram dan Youtube dibandingkan mengakses buku-buku Kemuhammadiyahan atau Ke-IMM-an. Hal ini yang perlu direnungi bersama oleh seluruh lapisan persyarikatan dan anak-anak IMM lainnya, sebuah fakta pahit yang harus diterima, dikarenakan generasi sekarang memang lebih suka dengan sesuatu yang simple dan instan.

Kurangnya Penanaman Ideologi Muhammadiyah di Tubuh IMM

Jenjang perkaderan dasar atau yang biasa dikenal Darul Arqam Dasar (DAD) IMM adalah  jenjang perkaderan paling dasar bagi calon kader IMM untuk dapat diakui sebagai kader IMM. Sebagai salah satu ortom Muhammadiyah, sudah seharusnya perkaderan IMM merujuk pada system perkaderan yang telah dibuat oleh Muhammadiyah. Artinya, Perkaderan IMM harus sejalan dengan system perkaderan yang ditetapkan oleh Muhammadiyah sebagai induk dari organisasinya. Salah satu tujuan dari DAD ini sebenarnya adalah untuk penanaman Ideologi Muhammadiyah terhadap calon kader IMM. Namun, apakah cukup dengan kegiatan seremonial yang berlangsung selama 3 hari masa kegiatan DAD seorang calon kader dapat memahami dan menginternalisasikan Ideologi Muhammadiyah dengan baik dan benar? Tentu saja jawabannya tidak.

            Saat DAD, materi Kemuhammadiyahan yang disampaikan oleh instruktur dapat dikatakan hanya mengulas permukaan saja dari seluruh isi Ideologi Muhammadiyah yang telah dirumuskan oleh Persyarikatan Muhammadiyah. Tentu saja hal ini tidak dapat “mencuci otak seorang calon kader apabila dia memang sebelumnya sudah mengenal Ideologi gerakan lain selain Muhammadiyah. Mungkin hal tersebut memang bertujuan agar calon kader tetap mencari dan berproses di IMM dalam perjalanannya menjadi kader Muhammadiyah sejati. Hal inilah yang seharusnya disikapi oleh Pimpinan Cabang maupun Pimpinan Komisariat untuk memfasilitasi kader-kadernya dengan mengadakan diskusi, bedah buku atau sejenisnya dengan mengulas lebih dalam mengenai apa itu Muhammadiyah dan IMM, seperti apa Ideologi yang dimilikinya, dan pandangan Muhammadiyah terhadap suatu fenomena yang sedang berkembang di Masyarakat. Sehingga hal tersebut dapat meminimalisir sesat pikir kader-kader IMM yang sejatinya penasaran dengan Muhammadiyah, akan tetapi rasa keingin tahuannya kurang terfasilitasi karena kurangnya program kerja yang bertujuan untuk menguatkan pemahaman Ideologi kader.

Mungkin perlu bagi Muhammadiyah dan IMM melakukan digitalisasi Ideologi, dimana penanaman Ideologi dapat dibuat sekreatif mungkin memaksimalkan fungsi sosial media. Dengan cara yang mudah dipahami, menarik untuk dibaca, dan mudah untuk diakses. Sehingga menjaga Ideologi tidak semata-mata menjadi omong kosong belaka, tetapi juga dengan tindakan nyata.

Semoga saja kedepannya Muhammadiyah dan IMM dapat terus eksis di Indonesia dan semakin berkemajuan tanpa kehilangan identitasnya yang sarat akan nilai-nilai kemoderatan dan keIndonesiaan. Memperjuangkan kebenaran dan menyebarkan nilai-nilai kemanusiaan bagi semesta.

Selamat Milad Ikatanku.. Jaya Selalu dan semoga Covid19 cepat berlalu, Aamiin.

*Juara 1 Essai Milad 56 PC IMM Sleman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top