Kesetaraan Gender yang Katanya Setara

thumbnail

Oleh : Eka Nur Wahyuni*

Seksisme, kata yang mungkin sudah tidak asing lagi bagi kita. Kata yang akhir-akhir ini sedang digaungkan di media-media. Seksisme seringkali dikaitkan dengan gerakan feminisme, konsep seksisme juga hampir mirip dengan rasisme. Perbedaannya, seksisme lebih berbasis pada seksualitas, jenis kelamin, dan gender.

Dirunut dari asal katanya, seksisme berasal dari dua kata: seks dan -isme. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), seks diartikan sebagai jenis kelamin, yakni perempuan dan laki-laki. Adapun -isme merupakan salah satu sufiks pembentuk nomina yang memiliki arti suatu sistem kepercayaan, suatu golongan, ideologi, dan nilai. Kata seksisme sendiri juga telah masuk dalam KBBI, dijelaskan bahwa seksisme merupakan penggunaan kata atau frasa yang meremehkan atau menghina berkenaan dengan kelompok, gender, ataupun individual.

Salah satu artikel dalam jurnal Psychology of Woman Quarterly yang bertajuk “Hostile and Benevolent Sexism: Measuring Ambivalent Sexist Attitudes Toward Women” (Peter Glick & Susan T. Fiske, 1997:119-135), seksisme dikategorikan menjadi dua, yaitu: hostile sexism dan benevolent sexism. Hostile sexism adalah seksisme yang bertujuan untuk menjaga dominasi laki-laki dan diekspresikan dengan cara yang esktrem atau unfriendly, seperti: harassment dan kekerasan. Adapun benevolent sexism adalah seksisme yang bentuknya lebih halus dan terkesan positif, cenderung lebih manipulatif, seakan-akan laki-laki tugasnya memang untuk melindungi perempuan, namun tetap saja tujuannya untuk memposisikan laki-laki di atas perempuan.

Perempuan sebagai sasaran seksisme

Seksisme lebih menyasar kepada subordinasi perempuan, perempuan yang dianggap lebih rendah posisinya dibanding laki-laki, perempuan yang selalu didominasi, dieksploitasi, dan ditindas. Meskipun demikian, sebenarnya laki-laki juga bisa mendapat perlakuan seksis. Namun jika diperhatikan di kehidupan sehari-hari, perempuanlah yang cenderung lebih banyak dihujani perlakuan seksis.

Tidak dapat dinafikan lagi meskipun kesetaraan gender selalu dikoar-koarkan namun hawa seksisme tetap terasa. Seolah-olah seksisme ini sudah amat sangat mengakar dan sulit dihilangkan walaupun peradaban sudah melangkah jauh ke depan.

Sebagai contoh, sering kali terdapat ujaran bahwa perempuan tidak boleh bersekolah terlalu tinggi karena akan susah mendapatkan pasangan, ibu rumah tangga sangat sering dianggap sebagai pengangguran, perempuan dituntut untuk bisa masak dan melakukan pekerjaan rumah lainnya, perempuan harus selalu senyum, berwajah manis, cantik, tidak boleh galak, dan laki-laki tidak boleh menangis karena menangis hanya diperuntukkan untuk perempuan saja.

Perlakuan seksis terhadap perempuan memang terlihat sebagai angin lalu. Hal ini menjadikan seksisme adalah sesuatu hal yang wajar dan normal. Bahkan, tidak sedikit perempuan itu sendiri akhirnya pasrah dan menginternalisasi seksisme pada dirinya, menganggap dirinya memang kelas dua, menganggap dirinya sebagai golongan yang memang lebih rendah, dan golongan yang memang di bawah laki-laki.

Kedua pemahaman tersebut, yakni pemahaman yang memang eksis dan pemahaman yang menginternalisasi seksisme pada dirinya inilah yang kemudian melestarikan seksisme itu untuk terus ada di kehidupan. Dampaknya, konsep dan ide seksisme ini akan bertransformasi menjadi aksi dengan berbagai macam bentuk dan skala, baik dari skala yang masih dianggap sopan hingga skala yang sudah kelewat kurang ajar.

Waspadalah!

*Kader PK IMM Fakultas Adab dan Ilmu Budaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top