Manifestasi Trilogi dan Trikompetensi IMM dengan Spirit Progresif dan Transformatif .

Oleh : Farhan Aji Dharma, S.H*

Daerah Istimewa Yogyakarta adalah tanah di mana Muhammadiyah pertama kali menjejakkan kaki. Muhammadiyah kemudian tumbuh dan berkembang ke seluruh pelosok negeri, sampai pun ke tanah mancanagari. Kelahiran Muhammadiyah di Yogyakarta tak pelak menimbulkan konsekuensi logis, bahwa Yogyakarta-lah pusat dimensi roh pergerakan dan perjuangan Muhammadiyah dari hulu sampai hilir waktu. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah sebagai organisasi sayap, juga lahir dan tumbuh di Yogyakarta melalui tangan-tangan dan kepala luhur para pendiri.

Fakta historis dan (barangkali) mistis di atas menjadikan IMM sebagai salah satu dari sekian organisasi yang didaulat menjadi “kiblat” gerakan, ideologi, dan pemikiran. Pasalnya, jika IMM DIY saja tak mampu menunjukkan konsistensi yang baik serta kualitas yang baik sebagai organisasi, maka timbul keresahan dan kekhawatiran di tubuh organisasi utamanya bagi organisasi luar DIY. Meski keresahan itu tak serta merta berlaku secara baku, terstruktur, dan masif. Sebab setiap daerah niscaya mempunyai potensi kembang masing-masing.

Meski demikian, DIY tetap perlu menjaga aras pergerakan yang unggul dan baik. Maka IMM DIY mesti memegang kuat komitmen itu dengan maksimal. Beberapa hal penting yang niscaya dipertahankan oleh IMM DIY adalah pada sektor keilmuan dan perkaderan, dan yang lebih penting adalah menjaga proses internalisasi dan kristalisasi ideologi di tubuh Ikatan. Dalam tiga lini itu (keilmuan, perkaderan, ideologi), IMM DIY perlu selalu menunjukkan ikhtiar yang optimal untuk senantiasa mengembangkan dan mewujudkannya dalam manifestasi-manifestasi gerakan.

Utamanya ideologi, tak bisa dipungkiri bahwa kader-kader IMM DIY perlu menjadi rujukan seluruh kader di mana pun. Bila kader-kader IMM DIY justru mengalami krisis ideologi, maka menjadi sebuah kegagalan yang menyedihkan. Bangunan ideologi Muhammadiyah di tubuh IMM dalam
konteks zaman ini sejujurnya telah terindikasi mengalami degradasi. Diskusi dan aksi IMM DIY di segala lini kerap berjauhan dengan prinsip-prinsip ideologi. Apalagi bila ditilik ke dalam, individu kader-kader IMM DIY masih nampak meraba-raba ideologi. Diskusi dan kajian ideologi yang telah berlangsung juga belum menghasilkan kemajuan yang siginifikan, apalagi menjadi watak kepribadian kader baik sebagai paradigma pikir, aktualisasi gerak, atau sebagai napas hidup.

Berangkat dari keresahan itu, maka menjadi pekerjaan rumah yang cukup berat bagi kepemimpinan IMM DIY ke depan untuk menjaga bangunan ideologi baik di ranah organisasi, terlebih kepada individu kader. Bangunan ideologi ini perlu juga dibangun di atas nalar progresif. Maka spirit keilmuan progresif perlu ditumbuhkembangkan secara terukur dan berkelanjutan. Tujuan konkret dari diberlakukannya infrastruktur progresivitas dalam paradigma ideologi ialah agar dalam upaya internalisasi sekaligus kristalisasi ideologi, prinsip kemajuan dapat selalu digunakan sebagai pegangan.

Berangkat dari proses internalisasi dan kristalisasi ideologi, keilmuan dan perkaderan IMM diharapkan akan berjalan dengan optimal. Khususnya sebagai landasan atau fondasi aktualisasi dalam keilmuan dan perkaderan. Selama ini, perkaderan dan keilmuan IMM nampak berjalan tanpa melibatkan visi kristalisasi ideologi. Kajian keilmuan IMM tak nampak tersusun secara sistematis. Perkaderan yang berlaku di IMM masih jauh panggang dari api. Akibatnya, IMM kerap kali absen dalam mendukung berbagai misi Persyarikatan alih-alih melahirkan kader yang siap mengaktualisasikan diri di lingkup Persyarikatan. Kekecewaan pada IMM seringkali disampaikan oleh beberapa tokoh Persyarikatan baik secara langsung ataupun tidak.

Faktor penghambat kemajuan IMM di sektor-sektor tadi selalu berhenti pada kasus-kasus maupun sikap seragam. Di antaranya; IMM kerap hanya
digunakan sebagai pelulus kepentingan semata, atau pelangsung upaya menumbuhkan eksistensi diri. Faktor-faktor ini tak jauh dari lahir dan berkembangnya sikap pragmatis dan individualis. Sifat semacam ini yang harus dienyahkan dari tubuh Ikatan. Dan dalam upaya itu, agaknya ikhtiar kristalisasi ideologi dapat efektif diberlakukan. Sebab bila kader memahami betul ideologi Muhammadiyah, maka sifat-sifat seperti disebut sebelumnya dapat diminimalisir, bila perlu dibuang sejauh mungkin.

Upaya-upaya baik untuk IMM perlu didukung secara kolektif oleh segala unsur organisasi dari bawah sampai atas. Maka, perlu juga muncul upaya integrasi yang baik antarpimpinan. Sebab bila tidak terbangun keseragaman visi, maka lagi-lagi IMM hanya akan berkubang di belenggu keterbelakangan. Lebih-lebih jika menilik beban historis dan ideologisnya, IMM DIY harus selalu dapat memposisikan diri sebagai organisasi percontohan.

Salah satu kunci penting yang harus juga perlu dipegang adalah pemahaman yang tuntas pada trilogi dan trikompetensi IMM. Baik dalam ranah konsep, maupun aktualisasi. Trilogi IMM adalah stimulus atau bagian penting dalam konstruksi ideologi Persyarikatan. Sebab telah disesuaikan dengan watak dan karakter yang dekat dengan pola dan kultur Ikatan. Terkhusus, trikompetensi dasar IMM yang selama ini terkooptasi pasal demi pasal. Trikompetensi dianggap sebagai opsi, bukan bersifat komplementer satu sama lain. Akibatnya, lahir kader-kader IMM yang belum tuntas kompetensinya, terlebih jika kemudian muncul corak-corak kader agamis, akademis, dan aktivis. Tiga corak ini mestinya hilang dari permukaan. Sebab ketiganya perlu disatukan menjadi watak dasar kader Ikatan.

Terjadinya pembagian sektor kompetensi itulah yang mengakibatkan hilangnya konektivitas visi dan gagasan di tubuh Ikatan. Belum lagi jika disejajarkan dengan paradigma trilogi IMM. Konektivitas itu lantas terbuang jauh ke antah berantah. Maka penafsiran yang utuh pada trikompetensi dasar diharapkan menjadi gerbang utama kemajuan Ikatan. Problematika ini memanglah mengandung kompleksitas yang pelik. Maka perlu diurai dan diselesaikan secara tuntas. Pemaknaan trikompetensi yang tuntas diharapkan dapat mengembalikan paradigma trilogi di tubuh Ikatan khususnya pada jiwa kader. Dari kesemuanya itu, bila dapat dikerjakan dengan penuh tanggung jawab, keikhlasan, dan pengabdian yang tinggi, insya Allah akan menunjukkan perubahan atau transformasi Ikatan yang signifikan. Hingga kemudian IMM, terutama IMM DIY, dapat menjadi patron lebih-lebih lokomotif pergerakan yang ideal baik di wilayah lokal, maupun global.

*Instruktur PC IMM Sleman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top