Mengurai Jeruji Pendidikan

Oleh : Muthia Akmalia (Kader IMM FITK UIN Sunan Kalijaga)

Pendidikan yang baik dan layak adalah hak seluruh warga indonesia, pendidikan ditujukan untuk memperbaiki budi pekerti, perilaku, juga menambah kecerdasan pada anak. Anak yang baru lahir diibaratkan seperti kertas putih yang masih suci, dan pendidikan yang diberikan orang tua mapun guru diibaratkan sebagai pewarna yang akan mewarnai kertas tersebut.

Secara umum, khususnya di Indonesia anak mulai mendapatkan pendidikan yang pertama dan yang utama yaitu pendidikan dalam keluarga yang didapatkan dari orang tua si anak itu sendiri, sedangkan setelah itu melewati beberapa tingkatan pendidikan dimulai dari yang paling awal yaitu PAUD atau KB (kelompok bermain), lalu TK (taman kanak kanak), SD (sekolah dasar), SMP (sekolah menengah pertama), SMA (sekolah menengah atas) hingga pada tahap perkuliahan.

Dalam pendidikan ada proses belajar mengajar antara guru dengan peserta didik, pada konsep pendidikan dialogis guru dan peserta didik sebagai subjek dan ilmu pengetahuan sebagai objek, dimana asumsinya guru dan peserta didik adalah yang mempunyai kemampuan untuk melakukan penelaahan terhadap ilmu pengetahuan.

Guru bukanlah satu-satunya sumber ilmu pengetahuan, melainkan hanyalah subjek perantara ilmu pengetahuan dari sumber ilmu itu sendiri dengan peserta didik. Sehingga pada konsep Pendidikan dialogis ini ilmu pengetahaun lah yang menjadi objek utama bagi peserta didik dan juga guru. Dalam proses Pendidikan yang seperti ini, ilmu akan lebih berkembang, karena dari guru maupun peserta didik dapat menemukan hal-hal baru dari apa yang mereka telaah dan pelajari tentang ilmu pengetahuan.

Adapun konsep Pendidikan yang sering kita temui saat ini adalah Guru yang dianggap sebagai subjek sumber ilmu pengetahuan yang utama. Akibatnya, ilmu yang dipelajari akan sulit berkembang dan hanya akan mencapai batas-batas tertentu yang ditentukan oleh guru itu sendiri. Selain akibat-akibat tersebut, juga menyebabkan dehumanisasi ilmu, padahal tujuan ilmu yang sebenarnya adalah memanusiakan manusia.

Mengenal Paulo Freire

Salah satu tokoh Pendidikan dari Brasil pada abad ke-19 yaitu Paulo Freire juga menyatakan bahwa konsep Pendidikan yang menjadikan guru sebagai sumber utama ilmu pengetahuan dan bukan ilmu pengetahuan sebagai objek utama dari Pendidikan dapat disebut dengan “dehumanisasi Pendidikan”. Oleh Freire dehumanisasi dianggap sebagai sesuatu yang mempengaruhi hegemoni tertentu dari suatu kelompok untuk menindas kelompok lainya. Karena itulah Paulo Freire sangat ingin menciptakan sistem Pendidikan yang progresif.

Menurut Freire, bahwa sesungguhnya Pendidikan itu adalah bentuk pembebasan, Pendidikan yang ideal seharusnya berorientasi kepada nilai-nilai yang berkaitan dengan kemanusiaan. Yang dimaksud kemanusiaan disini adalah mengembalikan manusia sebagai subjek dari Pendidikan dan ilmu pengetahuan sebagai objek dari Pendidikan itu sendiri.

Jika kita melihat sistem Pendidikan di Indonesia saat ini dimana penindasan di dunia pendidikanya sulit berakhir dan tak kunjung terselesaikan. Contohnya kebijakan Ujian Nasional, kurikulum yang semakin hari semakin rumit, dan juga masalah kekerasan bullying dan lain sebagainya dalam dunia Pendidikan, seperti dunia menutup mata akan adanya teori yang diciptakan oleh Paulo Freire ini.

Menurut saya, apabila konsep pendidikan dialogis ini dikolaborasikan dengan teori-teori yang diciptakan oleh Paulo Freire maka akan tercipta Pendidikan yang lebih progesif, mapan serta mengembalikan manusia sesuai kodratnya sebagai subjek Pendidikan dan ilmu pengetahuan sebagai objeknya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top