Menjadikan IMM yang Mampu Melintasi Zaman Melalui Teknologi

Oleh : Masyitoh Inayati*

Bulan maret merupakan awal mula indonesia dinyatakan darurat Covid19 sejak tahun 2020. Hitungannya sudah 1 tahun lebih untuk saat ini. Lalu apa yang akan dilakukan oleh masyarakat saat ini sudah mampu menyesuaikan perubahan atau era normal baru? Apa saja yang sudah dilakukan masyarakat terutama kita pribadi?

Sampai saat ini ternyata masyarakat bahkan belum mengindahkan apa itu 5M. Walaupun dengan gencarnya tokoh masyarakat ataupun pemerintah gencar untuk masalah kesehatan yang mempengaruhi seluruh dunia yang kemudian berdampak kepada permasalahan kesehatan, pendidikan, media sosial dan sebagainya. Di sisi lain Muhammadiyah memiliki peran banyak dan jelas sudah mampu menyelesaikan dengan caranya dan banyak sekali perencanaan bahkan kegiatan yang mampu membawa nama baik persyarikatan. Hal ini sudah jelas karna muhammadiyah dengan sigap membentuk MCCC (Muhammadiyah Covid-19 Command Center). Lalu, dari organisasi otonom tentunya juga tidak diam saja dan ikut membantu dengan membantu masyarakat terutama werga muhammadiyah yang terdampak.

Program dijalankan MCCC bersama Pemerintah RI, Deplu, dan Perdagangan Australia, Unicef, Usaid, perusahaan swasta nasional, perguruan tinggi dan perorangan. Di internal, MCCC didukung penuh Lembaga Amal Zakat Infaq dan Shodaqoh Muhammadiyah (Lazismu) sebagai pendanaan utama serta, didukung puluhan ribu relawan Muhammadiyah di Tanah Air guna menjalankan program-program penanggulangan kesehatan. Saat ini MCCC memiliki 3 tantangan yakni vaksinasi, daya tahan muhammadiyah, dan terakhir terobosan terbaru MCCC bisa melakukan terobosan. Menurut Porf Haedar, pengabdian

Muhammadiyah tidak akan pernah hilang sebagai jejak dakwah maupun sebagai ibadah kepada Allah Swt. Menurut dia, Muhammadiyah akan terus menyatukan langkah untuk membantu masyarakat Indonesia mengatasi pandemi Covid-19.“Tentu MCCC dan semua selemen yang ada di perserikatan Muhamamdiyah terus menyatukan langkah secara kolektif dan tersistem agar langkah bersama itu betul-betul saling bersinergi agar hasilnya menjadi lebih baik,”

Pendidikan. Muhammadiyah yang berkembang pesat dari waktu ke waktu ini mendedikasikan dirinya untuk bangsa dan negara. Muhammadiyah sendiri adalah bagian tak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia dan sudah jadi tanggung jawab Muhammadiyah untuk menjadi wadah dalam membangun karakter anak-anak bangsa. Wadah tersebut diwujudkannya dalam bentuk lembaga pendidikan Muhammadiyah. Bisa kita lihat dari sejak lahirnya Muhammadiyah sampai sekarang semua amal usaha yang dibangun ditujukan untuk mendidik dan memajukan kader bangsa. Mulai dari sekolah, pondok pesantren, universitas, dan lembaga amal usaha lainnya. Yang membedakan dengan lembaga lain adalah di Muhammadiyah para penerus bangsa itu diimbangi dengan muatan-muatan Islam yang menjadi dasar dari pendidikan itu sendiri. Maka pengetahuan yang diperoleh pun juga menjadi semakin kompleks antara ilmu umum dan keagamaan.

Proses pendidikan membuat kader Muhammadiyah bisa berpikir mandiri dan progresif untuk memajukan bangsa dan negara. Tak terhitung lagi jumlah pengabdian Muhammaiyah untuk bangsa Indonesia tercinta ini. Sejak zaman pra kemerdekaan hingga sekarang, sudah banyak tokoh dan gerakan Muhammadiyah yang turut membantu pembangunan dan kemajuan bangsa.

Contoh nyata yang bisa kita lihat saat ini adalah dimana indonesia dalam keadaan kritis karena dampak pandemi COVID-19 yang tersebar di seluruh penjuru negeri. Muhammadiyah ikut andil dalam garda terdepan untuk membantu pencegahan persebarannya. Terbukti Muhammadiyah memberikan solusi dan sekaligus juga pertanggung jawaban atas solusi yang diberikan tersebut. Solusi yang diberikan adalah bahwa Muhammadiyah mengimbau agar seluruh masyarakat wajib menjaga diri dan tidak banyak keluar rumah. Selain itu, fatwa dan panduan pun juga dikeluarkan terkait peribadahan di masa ini. Pertanggung jawaban dari Muhammadiyah adalah dengan menggelontorkan dana 120 milyar untuk membantu masyarakat yang terkena dampak COVID-19. Si sisi lain, Muhammadiyah juga mengirim 60.000 relawan baik medis maupun non medis, yang juga untuk mengawal jalannya protokol-protokol kesehatan di sekitar masyarakat. Sistem pendidikan pun dikemas lebih praktis dengan metode daring. Hal ini semata-mata untuk mencegah meluasnya COVID-19 dan mengutamakan keselamatan warga Indonesia, terkhusus para kader dan peserta didik yang berada di bawah naungan Muhammadiyah. Ini semua adalah bentuk dari pemikiran mandiri Muhammadiyah untuk mengabdi pada bangsa.

Pada lembaga pendidikan Muhammadiyah, baik sekolah formal maupun non formal dan juga kajian-kajian di luar lembaga pendidikan, ada dorongan untuk setiap elemennya memiliki budi pekerti yang luhur dan pemikiran yang maju. Mengingat, Muhammadiyah sendiri berdiri untuk adanya tajdid atau pembaruan. Seperti kata Pak AR. Fachrudin, “Tanpa pengajian, Muhammadiyah ibarat jasad yang tak bernyawa, tak memberi manfaat apa-apa”. Di sini bisa kita garis bawahi bahwa Muhammadiyah hadir untuk senantiasa memberi manfaat, terkhusus dalam bidang keilmuan dan pemikiran modern. Kita dituntut menjadi orang besar, orang yang bermanfaat untuk kembali ke Muhammadiyah dan menghidupi Muhammadiyah. Juga untuk mengawal perkembangan negara Indonesia menjadi “Baldatun Toyyibatun wa Robbun Ghofur“ yakni negara yang makmur dan dikasihi oleh Allah.

Media Sosial. Muhammadiyah sebagai salah satu gerakan berbasis agama Islam merasa perlu adanya fikih (aturan) dalam bermedia sosial. Hal ini melihat tingginya kebutuhan masyarakat akan informasi dan berjejaring sosial di internet. Pak Husni Amriyanto Putra mengatakan, Muhammadiyah mengeluarkan aturan untuk kehidupan umat Islam dalam berselancar di internet, terutama di media sosial, karena informasi yang beredar tidak dapat dibendung. Butuh sikap cerdas dalam menerima informasi, khususnya mahasiswa harus melek teknologi, tidak serta merta percaya atas setiap informasi yang diterima.

Ketua PP Muhammadiyah Bidang Pustaka dan Informasi, Prof Dadang Kahmad menegaskan arti penting etika komunikasi saat seorang Muslim menggunakan media sosial. Menurutnya, teknologi seharusnya mempererat rasa kemanusiaan dan empati, bukan justru malah menafikannya. Beliau menghimbau agar semakin cerdas, dewasa, bijak, dan beretika mulia dalam bermedia sosial.

Dari informasi diatas penting bagi kader persyarikatan khususny kader IMM untuk mulai peduli dari apa yang ada di sekitar kita, oleh karen itu dari 3 hal yang menjadi poin penting bagi saya adalah kesehatan, pendidikan dan media sosial, walau sebenarnya masih banyak permasalahan yang sebenarnya cukup relevan sampai saat ini untuk diatasi. Selain itu media sosial merupakan jembatan untuk mengakses dunia seputar kesehatan, pendidikan, dan masih banyak lainnya yang ternyata akses saat ini lebih mudah diakses di media sosial. Tanpa media sosial dan melek teknologi maka kehidupan kedepan juga bisa saja terhambat dan semakin banyak tantangan-tantangan lainnya yang perlu diselesikan terutama untuk generasi Z maupun era milenial saat ini.

*Alumni PC IMM Sleman 2018/2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top