Napak Tilas Muhammadiyah: Pembaharuan dari Tanah Kauman

thumbnail

Oleh: Tijanun Baroroh Addakhil

Kauman dikenal sebagai perkampungan padat nan nyaman. Pun kauman menjadi saksi sejarah dari perjuangan dan kegigihan Kyai Dahlan. Mari bernostalgia sejenak. Sejak kecil, Ahmad Dahlan sudah dibiasakan belajar dan menimba ilmu kepada para Kyai dan tokoh-tokoh ilmuan di sekitarnya. Banyaknya sumber pengetahuan dan tingginya kecerdasan yang dimiliki membuat Kyai Dahlan terlihat lebih istimewa dari teman sebayanya.

Beranjak ke usia remaja, terlihat bahwa Kyai Dahlan mulai merespon dan mengkritisi sesuatu yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Tidak heran ketika dewasa beliau menjadi pribadi yang gigih dalam memperjuangkan dan menciptakan gebrakan-gebrakan baru demi kemajuan umat Islam. Hal ini karena budaya dan tradisi masyarakat Kauman terdahulu telah menjadikan Kyai Dahlan sebagai manusia yang sadar dan kuat berjuang meluruskannya sesuai ajaran Islam yang sesungguhnya. Sampai pada akhirnya, tercipta gerakan pembaharuan yang transformatif bernama Muhammadiyah.

Bersama Cicit Kyai Ahmad Dahlan

Ahad (8/12), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Komisariat Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga telah melakukan kegiatan Napak Tilas Muhammadiyah bertempat di Kauman. Kegiatan ini dimaksudkan agar kader IMM dapat menyusuri dan menambah wawasan yang lebih mendalam mengenai gerakan Muhammadiyah beserta pendirinya.

Melalui kegiatan ini, IMM Komisariat FITK mendapat kesempatan bertemu dengan salah seorang cicit Kyai Dahlan. Beliau memberikan banyak pemaparan yang sangat padat dan ringkas. Mulai dari pembaharuan dan gebrakan-gebrakan sang eyang, hingga hubungan dan perbedaan penyebaran ajaran Islam oleh Kyai Dahlan dan pendiri NU.

Pembaharuan Kyai Ahmad Dahlan

Tak sedikit pembaharuan yang dilakukan Kyai Dahlan. Misalnya, dahulu perempuan hanya diwajibkan melakukan tiga hal pekerjaan, yaitu: pupur, kasur, dapur (berhias, melayani suami, memasak). Yang mana hal itu telah mengekang para perempuan untuk menciptakan sebuah kreativitas. Malihat hal demikian, Kyai Dahlan memberikan perempuan kesempatan dalam kebebasan public, sehingga perempuan dapat melakukan apa yang ingin dilakukannya seperti bersekolah, bekerja dan sebagainya.

Bukan dalam hal publik saja, dalam hal beribadah kepada Tuhan, Kyai Dahlan pun memberikan kesempatan kepada perempuan supaya bisa meraup pahala sebagaimana laki-laki mendapatkannya, yakni sholat berjama’ah. Kyai Dahlan membangunkan sebuah Musholla ‘Aisyiyah untuk kaum wanita bersembahyang bersama. Selain itu, Kyai Dahlan juga memotivasi perempuan untuk berprofesi di segala bidang sebagaimana laki-laki, utamanya adalah menjadi dokter. Alasannya ialah karena pada saat itu, Indonesia tidak memiliki satupun dokter perempuan yang menggantikan dokter laki-laki untuk menangani pasien perempuan.

Pembaharuan untuk perempuan yang kesekian kalinya adalah perempuan diberikan kesempatan untuk menyampaikan ceramah di depan umum. Telah banyak perempuan-perempuan terdahulu yang sangat pandai serta mampu berorator dengan baik. Atas dasar demikian, Kyai Dahlan memberikan kesempatan perempuan berceramah di hadapan mustami’in/at dalam pengajian yang beliau pimpin, baik di Kauman maupun di luar daerah Kauman.

Meskipun pembaharuan itu dirasa tak biasa oleh masyarakat pada saat itu, Kyai Dahlan tetap melakukan pembaharuan untuk menyelamatkan umat Islam dari ketertinggalan peradaban. Kyai Dahlan tidak ingin umat Islam bodoh dan tidak berdaya. Oleh karenanya, beliau juga melakukan pembaharuan di bidang pendidikan. Beliau merombak sistem pendidikan dengan memadukan ilmu umum dan ilmu agama sesuai porsi yang pas. Selain itu, ketika pembelajaran sebelumnya murid yang selalu mendatangi gurunya, maka beliau menggantinya dengan metode klasikal dengan cara gurulah yang mendatangi muridnya.

Ijtihad merupakan bentuk pembaharuan dalam bidang agama yang menjadi ciri khas dari Muhammadiyah. Muhammadiyah memiliki prinsip ijtihad tersendiri yang selalu bergerak dan berubah. Prinsip ini merupakan hal yang membedakan gerakan Muhammadiyah dengan yang lainnya. Hasil tarjih saat ini mungkin saja dapat berubah dengan hasil tarjih sepuluh tahun ke depan. Sehingga konsep ijtihad yang selalu berubah dan berkembang sebagaimana perkembangan ilmu Al-Qur’an dan Sunnah ini telah menjadi esensi pembaharuan dalam Muhammadiyah.

Hubungan Kyai Ahmad Dahlan dengan Kyai Hasyim Asy’ari

Kyai Ahmad Dahlan dan Kyai Hasyim Asy’ari pernah dipertemukan dalam perguruan yang sama. Hubungan keduanya pun sangat baik, bahkan saling mendukung dan menghargai antara satu dengan lainnya. Ketika mendengar terdapat Kyai pembaharu yang sholih di Yogyakarta, para pemuda di Jombang pun izin kepada Kyai Hasyim Asy’ari untuk menemui Kyai Dahlan dan beliau mengijinkan. Ketika Muhammadiyah hendak didirikan di Jawa Timur, Kyai Hasyim pun menyambut dan sangat terbuka, karena baginya gerakan yang didirikan Kyai Dahlan ini merupakan gerakan yang baik.

Pada dasarnya tidak ada benturan sama sekali antara ke dua tokoh pendiri gerakan Muhammadiyah dan NU ini. Gesekan yang terjadi saat ini merupakan suatu hal kecil yang mungkin dibesar-besarkan. Memang terdapat beberapa perbedaan antara Muhammadiyah dan NU, akan tetapi hal tersebut hanya dilatarbelakangi oleh dilibatkan tidaknya tradisi dalam penyebaran ajaran Islam oleh masing-masing gerakan. Muhammadiyah bukan tidak menghargai tradisi, akan tetapi hanya memilah dan memilih mana tradisi yang baik untuk dilestarikan dan mana yang tidak untuk dilestarikan. Hal ini karena sebagai wujud kehati-hatian Muhammadiyah dalam menjaga akidah umat Islam.

Sebagai umat Islam yang paham, tak baik jika memandang hanya pendapat dan pemikiran golongan sendiri saja yang benar. Akan tetapi harus meyakini bahwa setiap umat memiliki pendapat dan dasarnya masing-masing. Menjaga keutuhan sesama umat Muslim lebih utama dari sekedar melihat perbedaan dari cara mendekatkan diri kepada Tuhan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top