Ramadhan dan Nestapa Manusia Modern

thumbnail

Oleh : Sirajuddin Bariqi

Dalam piramida alam semesta, manusia punya posisi yang istimewa. Ia berada di atas malaikat, jin, hewan, tumbuhan dan makhluk (yang seolah) mati. Kemampuan manusia untuk mengolah rangkaian peristiwa yang dialami dengan akal pikiran merupakan satu di antara sebab keistimewaannya. Selain bahwa ia mempunyai fitrah kemanusiaan berupa hati dan rasa.

Tidak secara serta merta. Seiring berjalannya waktu, manusia terus berupaya memaksimalkan potensi akal yang ada pada dirinya. Dalam bahasa Yuval Noah Harari (2015), manusia mengalami tiga macam revolusi; revolusi kognitif, revolusi pertanian dan revolusi sains.

Sejarah manusia menjadi bukti. Bahkan wahyu kenabian pun disampaikan sesuai dengan kemampuan manusia (QS. 14: 4). Artinya, memang terjadi peningkatan kemampuan. Keterbatasan akal manusia, seperti halnya diungkapkan banyak pihak, belum bisa dibuktikan sampai sejauh mana. Sebab ia terus mengalami perkembangan yang signifikan.

Manusia Modern

Peradaban modern yang dicirikan dengan maju dan pesatnya tekhnologi dianggap merupakan bukti bahwa kemampuan akal manusia belum mencapai puncak. Ketergantungan manusia pra-modern terhadap kondisi alam bisa diminimalisir bahkan diatasi oleh kecanggihan tekhnologi.

Manusia modern tak lagi bergantung pada alam, dan pada batas tertentu juga tak lagi bergantung pada Tuhan. Terjadi pengagungan yang berlebih kepada akal. Muncul keangkuhan, bahwa manusia adalah pusat dan penentu segalanya. Sejarah, kata manusia modern, berjalan tanpa campur tangan Tuhan.

Di satu sisi memang terjadi kemajuan. Paling tidak, itu yang nampak. Di sisi lain, yang sering luput dari perhatian banyak orang, terjadi kemerosotan. Kemerosotan moral dan terutama kemerosotan iman. Tidak salah jika dikatakan bahwa manusia modern adalah manusia perusak.

Bermaksud menyelesaikan persoalan, manusia modern malah melahirkan persoalan-persoalan baru. Kelahiran ragam ideologi besar seperti kapitalisme dan sosialisme yang bertujuan menyelesaikan konflik di tengah masyarakat, nyatanya tidak bekerja secara efektif.

Solusi yang ditawarkan tidak dilandasi oleh pijakan yang kuat. Terlebih, tercerabut dari akar spiritualitas. Tidak peduli pada nilai-nilai agama. Haidar Bagir (2017) menyebut, “manusia modern mengalami kehampaan spiritual.”

Sayangnya, kita belum juga sadar. Masih dan terus saja terbuai. Kata Sayyed Hosein Nasr (1983), inilah the plight of modern man (nestapa manusia modern). Kesenjangan bukan hanya terjadi antara masyarakat desa dengan masyarakat kota, kaum borjuis dengan kaum proletar, tetapi lebih parah lagi, antara manusia dengan Tuhannya.

Dengan kekeangkuhannya, manusia modern tidak pernah melibatkan Tuhan dalam segala aktifitas. Padahal, aktifisme sejarah harus diimbangi dengan spiritualitas. Dengan dalih kemajuan, manusia melupakan Tuhan dan beralih ke realitas terbatas, materi. Kita menyebutnya sebagai materialisme.

Peradaban modern adalah peradaban materialisme. Dengan segala kemampuannya, manusia modern melakukan inovasi dan kreatifitas. Tujuannya tidak lain adalah memperlancar jalannya sejarah.

Tujuan tersebut tidak selalu berjalan mulus. Kemajuan yang disuarakan oleh peradaban modern adalah kemajuan yang semu. Sifatnya menipu. Secara tampilan ia memang menggiurkan dan memanjakan mata, tetapi di balik itu terjadi suatu kondisi dan potensi yang dapat meremukkan martabat kemanusiaan (Kuntowijoyo, 1993). Manusia kehilangan jati dirinya.

Ramadhan sebagai Momentum

Miris memang, ketika melihat bahwa aktifitas yang dilakukan oleh manusia modern tidak pernah diimbangi dengan kontemplasi, perenungan (Nasr, 1983). Selalu bergerak maju, tetapi dengan mengabaikan kebutuhan dasar manusia, yakni spiritualitas.

Penting untuk menyadari bahwa selain sebagai makhluk yang diberi kemampuan berpikir, manusia juga merupakan makhluk spiritual. Artinya aktifitas yang dilakukan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan jasmani, tetapi juga rohani.

Bulan ramadhan merupakan momentum bagi umat Islam untuk mengisi kembali kebutuhan dasar manusia setelah lama terkubur oleh tipu daya peradaban modern yang materialistik. Maka umat Islam seharusnya bergerak melampaui ritualitas bulan ramadhan. Tidak sekedar memperbanyak ritual-ritual keagamaan, melainkan juga memperbanyak tadarus pemikiran dan olah hati (perenungan).*

*) Ketua Bidang Kader PC IMM Kab. Sleman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top