Refleksi Hari Guru: Bagaimana Seharusnya Kompetensi Guru dan Perlakuan Terhadapnya? *)

thumbnail

Oleh : Elvara Norma Aroyandini

Kualitas pendidikan di Indonesia dikatakan masih sangat rendah. Salah satu faktor penyebabnya yaitu rendahnya kualitas guru. Hal ini terlihat dari salah satu data yang menunjukkan bahwa dari 1,6 juta guru yang mengikuti UKG (Ujian Kompetensi Guru), hanya 192 orang saja yang memperoleh nilai di atas 90, sementara nilai rata – ratanya hanya 56 (Anonim 2016). Hal ini tentu tidak bisa dibiarkan, karena guru merupakan “dalang” utama pelaksana proses pendidikan, sehingga jika gurunya berkualitas buruk, maka dapat dipastikan siswanya juga akan lebih buruk atau minimal sama dengan kualitas guru tersebut. Terlebih bagi siswa–siswa yang memang hanya mengandalkan pembelajaran yang dilakukan di sekolah atau  tidak mengikuti pendididikan luar kelas, seperti bimbingan belajar dan les privat. Itulah mengapa, Indonesia sudah sering mengubah kurikulum pendidikannya, tetapi pendidikannya tidak juga mengalami kemajuan. Hal ini karena sebaik apapun kurikulum dibuat, tetapi jika guru tidak bisa melaksanakannya dengan baik, maka itu ibarat memasukkan unta ke dalam lubang jarum, mustahil didapatkan pendidikan yang bermutu.

Memperbaiki kualitas guru menjadi pilihan paling strategis untuk mengubah kualitas pendidikan Indonesia, sebagaimana telah diterapkan oleh negara dengan kualitas pendidikan terbaik dunia, yaitu Finlandia. Berdasarkan PISA (Programme for International Student Assessment) yang dilakukan oleh OECD (Organization for Economic Cooperation and Development), Finlandia menduduki peringkat tersebut pada tahun 2007 karena berhasil merebut juara 1 pada tiga dari lima ketegori yang dilombakan (Sinaga 2012:1–3). Finlandia berhasil memperoleh gelar tersebut meskipun jam belajarnya hanya 30 jam per minggu atau 6 jam per hari dan siswa baru mengawali sekolah pada usia tujuh tahun (Ruhimat 2013). Artinya, waktu belajar anak Finlandia jauh lebih sedikit daripada anak–anak Indonesia yang sudah mulai sekolah pada usia empat tahun, yaitu pada program PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) serta waktu belajar secara umum yang bisa mencapai 40 jam per minggu atau bahkan ada yang menerapkan full-day school. Perbandingan ini menunjukkan bahwa dengan waktu belajar yang singkat namun dibina oleh guru yang berkompetensi tinggi akan lebih baik daripada waktu belajar yang panjang namun dibina oleh guru yang berkompetensi rendah. Lalu, bagaimana seharusnya guru di Indonesia? Rincian tentang kompetensi dan perlakuan pemerintah Finlandia terhadap guru berikut dapat menjadi contoh bagi pemerintah Indonesia dalam upaya memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia. 

Pertama, Guru Finlandia adalah lulusan terbaik dari Sekolah Menengah Atas (SMA) (Ruhimat 2013). Setelah lulus SMA, siswa di Finlandia tidak berebut untuk memasuki fakultas kedokteran, teknik maupun matematika dan IPA (MIPA), tetapi mereka berebut untuk dapat diterima di fakultas pendidikan. Jika yang memasuki fakultas pendidikan adalah lulusan terbaik SMA, maka di fakultas pendidikan tentunya akan ditemukan calon–calon guru yang memiliki kecerdasan dan kemampuan yang mumpuni, mengingat seorang guru memiliki tugas yang cukup berat, yaitu sebagai pelaksana program pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melaui sekolah.

Kedua, Guru merupakan lulusan dari fakultas pendidikan (Chatib 2012:26). Berbeda dari yang ada di Indonesia dimana fakultas pendidikan ada di hampir semua universitas, baik yang negeri maupun swasta sehingga tidak ada pemantauan yang jelas terkait kompetensi lulusan yang dihasilkan. Fakultas pendidikan di Finlandia hanya dimiliki oleh 11 universitas (Kausar 2013) yang sifatnya mendapat pengawasan langsung dari pemerintah, sehingga lulusannya memiliki kompetansi yang sama. Mereka tentunya juga dibekali dengan kemampuan mendidik dan mengajar siswa–siswanya, yaitu melalui materi–materi kependidikan yang diajarkan selama kuliah. Melalui ilmu tersebut, mereka akhirnya mampu menerapkan berbagai jenis materi, metode dan strategi pembelajaran yang cocok untuk anak didiknya. Berbeda dengan di Indonesia dimana saat ini masih banyak ditemukan guru – guru yang tidak linier dengan bidangnya, yaitu tidak berasal dari fakultas pendidikan tetapi menjadi guru dan mengajar di sekolah.

Kenyataannya, banyak mahasiswa yang berasal dari fakultas hukum, sastra dan MIPA yang saat ini menjadi pengajar. Hal tersebut mungkin bisa saja dilakukan, karena mereka tentunya juga memiliki ilmu dan kemampuan yang mumpuni. Akan tetapi, satu hal yang mungkin tidak dimiliki oleh mereka, yaitu kemampuan pedagogis atau kemampuan untuk membelajarkan materi pelajaran kepada peserta didiknya. Kemampuan ini tentu sangat penting untuk dimiliki seorang guru karena ketika menyampaikan materi kepada siswa, guru tidak hanya sekedar menyampaikan saja, tetapi juga memiliki kewajiban untuk memahamkan peserta didik yang karakternya sangat beragam terhadap suatu materi. Sementara kemampuan ini bukanlah kemampuan yang bisa terbentuk begitu saja, melainkan harus melalui proses pembelajaran yang panjang, yaitu dengan dibentuk melalui kuliah pada fakultas pendidikan. Karena terkadang seseorang bisa dengan mudah berorasi di hadapan banyak masa, tetapi ketika disuruh untuk mengajar siswa di kelas banyak diantara mereka yang tidak sanggup.

Ketiga, guru minimal harus bergelar Master (Chatib 2012:27), yaitu telah menyelesaikan kuliah pada strata 1 dan 2 dalam bidang pendidikan, sehingga ilmu pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki untuk mengajar sangat mumpuni. Berbagai penelitian tentunya telah dilakukan oleh guru, minimal saat menyelesaikan skripsi dan tesis atau juga penelitian–penelitian lain selama masa studinya, sehingga guru bisa menerapkan metode pengajaran yang cocok untuk karakter siswa–siswanya. Bahkan guru di Finlandia sudah tidak lagi menggunakan buku–buku yang ditulis orang lain, tetapi mereka menggunakan buku yang ditulis dan dirancang oleh mereka sendiri sesuai dengan rencana pembelajaran yang akan mereka terapkan. Artinya, siswa setiap tahunnya selalu menggunakan buku–buku yang informasinya selalu up to date. Bukan buku – buku yang masa terbitnya sudah lama sehingga apa yang ada di dalam buku tersebut terkadang sudah tidak relevan dengan kondisi dan perkembangan ilmu pengetahuan masa kini.

Keempat, Guru bersifat evaluatif (Chatib 2012:27). Pendidikan di Finlandia tidak dituntut dengan banyaknya tugas maupun ujian, sehingga dalam mengajar guru tidak ditekan dengan adanya banyak target. Akan tetapi, guru di Finlandia tetap bekerja secara maksimal, bahkan selalu mengevalusi dirinya agar dalam mengajar bisa selalu memberikan yang terbaik. Di sana, tidak pernah ada guru yang membentak siswa akibat hasil buruk yang diperoleh, karena guru justru melakukan evaluasi terhadap dirinya sendiri. Mereka berpedoman bahwa jika mereka gagal dalam mengajar siswa, maka ada sesuatu yang tidak benar pada pengajaran yang dilakukan, sehingga guru harus mengubah cara mengajarnya dengan tanpa menyalahkan siswa. Guru juga fokus untuk mengamati perkembangan siswa, yaitu dengan cara membandingkan pencapaian saat ini dengan pencapaian sebelumnya, tanpa membandingkan antara satu siswa dengan siswa yang lain.

Kelima, Guru mendapat tunjangan yang setara dengan tenaga profesional lainnya (Kausar 2013), seperti dokter, pengacara, polisi dan sebagainya. Nominal terendah tunjangan guru untuk tingkat lanjutan yaitu $31,687 dan nominal tertingginya yaitu sebesar $51,317. Tingginya tunjangan ini diberikan sebagai hak guru yang telah memenuhi kewajiban berupa memenuhi tingginya kualifikasi guru yang disyaratkan oleh pemerintah. Pemberian tunjangan ini sekaligus untuk memakmurkan kehidupan guru, sehingga guru juga mendapatkan “posisi” yang terhormat di masyarakat.

Penerapan hal tersebut di Indonesia setidaknya akan menghasilkan beberapa manfaat praktis, diantaranya yaitu Pertama, banyak anak – anak cerdas yang menginginkan untuk menjadi guru, mengingat tingginya tunjangan yang diberikan pemerintah serta tingginya status sosial yang didapatkan di masyarakat. Kedua, jika anak–anak cerdas yang memasuki fakultas pendidikan, maka output yang dihasilkan juga akan jauh lebih berkualitas, sehingga nantinya mampu mendidik anak–anak Indonesia menjadi anak-anak yang cerdas dan berwawasan luas. Ketiga, Terjadi pemerataan kualitas guru di seluruh Indonesia, sehingga tidak ada kesenjangan antara satu daerah dengan daerah yang lain, karena guru berasal dari universitas – universitas tertentu yang berada di bawah pengawasan pemerintah dimana telah ditetapkan standar yang sama pada semua universitas tersebut. Keempat, Indonesia akan menjadi negara yang maju, karena dengan meratanya mutu pendidikan yang berkualitas ke seluruh Indonesia, maka Indonesia dengan mudah dapat melakukan berbagai pembangunan yang mengantarkannya menjadi negara yang maju.

Beberapa hal di atas kiranya dapat dijadikan inspirasi untuk menjadikan pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik. Tentunya, tidak melulu harus sama dan mengekor pada Finlandia, tetapi juga harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi di Indonesia. Tetapi, pemerintah tetap harus mengambil langkah besar, seperti misalnya, membatasi jurusan kependidikan hanya ada pada universitas tertentu yang benar – benar telah teruji kualitasnya, memberikan gaji yang layak kepada guru sebagaimana beban berat yang dipikulkan kepadanya, mewajibkan profesi guru benar – benar berasal dari lulusan program studi kependidikan, meningkatkan kompetensi guru, dan sebagainya, sebagai upaya untuk memutus “kekhilafan” yang terjadi pada dunia pendidikan sebelumnya.

*) Tulisan ini ditulis pada tahun 2016 dan menjadi Juara dalam Penulisan Esai Mahasiswa-Umum tingkat Nasional yang diselenggarakan dalam rangka HUT Penerbit dan Percetakan Kanisius serta dibukukan dalam Buku “Menggagas Pendidikan di Indonesia”. Ditulis kembali dengan beberapa perubahan dan perbaikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top