Rekonstruksi Gerakan Demi Mewujudkan IMM DIY yang Berdaya dan Mendayaguna

Oleh : Farhad Najib Izzuddin, S.H*

“Muhammadiyah dikenal sebagai gerakan tajdid dan kemudian hari tumbuh menjadi organisasi Islam modern yang cukup besar. Predikat yang terhormat itu kini menjadi beban sejarah, yaitu bagaimana warga Muhammadiyah dapat melanjutkan dan menunjukkan karya-karya baru yang lebih anggun dalam pembaruan Islam di bumi tercinta ini. Jika beban sejarah itu tidak mampu dipikul oleh Muhammadiyah, maka Muhammadiyah boleh mengucapkan selamat tinggal pada kejayaan masa silam dari prestasi pembaruan yang telah ditorehkannya. Sebaliknya, Muhammadiyah akan mengukir sejarah baru manakala mampu memainkan peran pembaharuannya yang lebih brilian guna mengarahkan dan memimpin peradaban ummat manusia di era baru abad ke- 21.” (Prof. Dr. H Ahmad Syafi’i Maarif)

Di tengah berbagai permasalahan seperti ketidakadilan, kesewenang- wenangan, dan kemiskinan, menghadirkan kembali fungsi agama sebagai pemandu dan penunjuk arah kehidupan manusia (Nashir 1999: 14) menjadi penting. Adalah benar bahwa secara historis, agama –termasuk Islam— seringkali dimanfaatkan untuk melanggengkan status quo. Akan tetapi, semata-mata berpijak pada historisitas agama tanpa melihat dan mempertimbangkan aspek normativitasnya adalah sikap yang kurang bijak. Agama Islam hadir sebagai bentuk perlawanan atas berbagai perilaku yang mencederai nilai-nilai kemanusiaan. Dengan kata lain, Islam membawa misi transformasi sosial, yakni dengan memperbaiki sifat dan sikap masyarakat yang melenceng dari garis ketentuan Sang Pencipta dan Pengatur Alam Semesta. Mustahil agama melegitimasi sikap destruktif dari pemeluknya. Pun demikian, sebagai implikasi atas keberagamaan, usaha untuk mengembalikan martabat kemanusiaan tidak boleh terlepas dari nilai-nilai agama.

Dewasa ini dikenal dengan istilah abad 21, dimana manusia hidup dalam dunia tanpa batas, dengan kencangnya transformasi informasi yang dilancarkan dengan kemajuan ilmu teknologi. Apa yang terjadi saat ini di luar
negara Indonseia sana, dengan sekejap mata juga dapat menyaksikan hal yang sama. Akulturasi budaya yang didorong oleh kekuatan global tersebut telah menjadi tatanan peradaban dan tradisi kehidupan negara-negara ketiga. Sebut saja misalnya dalam aspek sosial budaya. Kepentingan individu sudah menjadi aspek yang selalu dan harus diprioritaskan dalam segala hal. Kepentingan komunal menjadi suatu yang kuno. Cara berpikir ini pernah dikemukakan oleh Adam Smith dengan mengatakan sikap altruis (mementingkan kehidupan orang banyak/lain) adalah bentuk kegagalan bagi suatu negara, akhirnya setiap individu menjadi bersikap untuk saling berkompetisi yang tidak lagi mengindahkan norma, etika dan aturan yang telah berlaku

“Pendewaan” disini dalam artian terhadap aspek materi yang berlebihan, mengantarkan model kehidupan umat yang materialistik dan sekularistik. Benda dianggap sebagai satu-satunya orientasi kehidupan yang harus dipenuhi. Bahkan ukuran kemuliaan, kekuasaan, dan kebahagian hidup diukur dengan kebendaan. Hati nurani dan nilai-nilai moral hanya sekedar hiasan hidup semata. Sehingga dengan ketertutupan hati nurani yang telah terbungkus oleh sikap materalistik dapat menghancurkan secara perlahan nilai-nilain kemanusiaan dan peradaban yang telah dibangun selama ini.

Islam sesungguhnya merupakan agama kaum mustadh’afin atau agama yang memihak kepada kaum yang lemah, termasuk diantaranya adalah orang miskin, terbelakang dan tertindas (Rahmat, 1991:64). Dalam Islam selalu ada relasi antara kesalehan religius dengan kesalehan sosial dan tidak mengesampingkan salah satu di antaranya. Itulah sebabnya dalam Al-Quran kata iman seringkali dikaitkan dengan amal shaleh, dengan pengulangan kata iman yang diiringi frasa amalan shalihat sebanyak 36 kali.

Relasi kesalehan religius dengan kesalehan sosial juga tampak dari urusan- urusan ibadah yang tidak sempurna atau melanggar pantangan tertentu,
maka kifaratnya adalah melakukan sesuatu yang berhubungan dengan sosial. Misalnya, jika tidak mampu melaksanakan shaum wajib maka kifaratnya adalah fidyah atau memberi makan kepada orang miskin Golongan inklusif masih berkutat dengan gagasan kesetaraan kaum beriman dan keharusan untuk bersikap toleran. Kehadiran fikih semacam ini tentu belum mampu melahirkan praksis keberpihakan terhadap kaum mustadhafin sehingga dirasa perlu mengembangkan tafsir kepentingan atau produk fikih yang lebih menyentuh masalah-masalah mendasar kehidupan sosial keseharian serta memihak masyarakat lemah.

Kelompok dhuafa & mustad’afin sebenarnya ada di mana-mana bahkan sudah menjadi pemandangan kita sehari-hari. Seringkali kehidupan mereka tidak lagi menyentuh hati nurani kita, karena seolah sudah menjadi realitas yang biasa dan bisa dimaklumi. Sekalipun persoalan keadilan sosial menjadi sendi utama Islam, akan tetapi jika ketidakadilan itu tidak menimpa kita atau kerabat kita maka serta merta kita tidak akan menaruh kepedulian (Abdurrahman, 1997:11).

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah adalah salah satu organisasi kader yang terdapat dalam ruang lingkup kampus yang bergerak berdasarkan trilogi geraknya yaitu Keagamaan, Kemahasiswaan, dan Kemasyarakatan, dimana satu sama lain saling melengkapi (complement). Sebagaimana yang diungkapkan oleh Drs. Djazman Alkindi sebagai salah satu founding father. Ideologi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah sebagai landasan bergerak maka kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah bukan hanya bisa dalam berwacana saja tetapi mampu membangun citra diri dalam memainkan peran di tengah-tengah persaingan yang terus berlangsung.

Idealnya program pengembangan masyarakat pada dasarnya harus bersifat mendampingi dan menempatkan kaum mustadhafin sebagai subjek. Oleh karenanya pendekatan transfromatif menjadi acuan yang sangat penting agar dalam proses tersebut, subjek yang akan merencanakan program untuk dirinya, memahami strategi dan peluang-peluang yang mungkin dapat meningkatkan harga dan harkatnya sebagai manusia di hadapan Penciptanya. Dengan demikian, sebagai bagian dari kader IMM harus bertangungjawab secara moral dan intelektual dalam berperan mengupayakan dan melanjutkan transformasi gerakan sebagai mana idealitas gerakan dan tujuan IMM. Sehingga tergeraknya roda kepemimpinan yang responsif sesuai perkembangan zaman.

*Alumni PC IMM Sleman 2018/2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top