Respon Muhammadiyah Terhadap Modernitas

thumbnail

Oleh: Fadhel Izanul Akbar

Muhammadiyah didirikan pada saat dunia Islam berada di bawah kendali penjajah, termasuk yang dialami oleh umat Islam di Indonesia. Saat itu, banyak sekali permasalahan yang terjadi, seperti masalah pendidikan, kemanusiaan, akidah, politik, dan sebagainya. Di tengah aneka persoalan itulah Muhammadiyah hadir dengan misi purifikasi dan dinamisasi.

Secara pemikiran dan gerakan, Muhammadiyah bisa diidentikkan sebagai organisasi Islam Modern. Di wilayah purifikasi, hal ini bisa dibuktikan dengan sikap Muhammadiyah yang menolak adanya praktek TBC (tahayul, bid’ah, churafat). Sedangkan di wilayah dinamisasi, penggunaan meja dan kursi sebagai sarana penunjang pendidikan merupakan bentuk penerimaan Muhammadiyah terhadap ‘produk’ modernitas, meskipun saat itu dinilai negatif oleh mayoritas masyarakat.

Sebuah Kilas Balik

Kamis (28/11), bertempat di Sekretariat PC IMM Sleman, Kelas Ideologi PC IMM Sleman mengadakan diskusi mengenai bagaimana Muhammadiyah merespon arus modernitas. Dalam kesempatan tersebut, bertindak selaku pemantik adalah Immawan Majid Himmawan, yang merupakan salah satu Alumni PC IMM Sleman.

Mengawali pembicaraan, Majid memulai dengan melakukan kilas balik Muhammadiyah ketika organisasi Islam Modern ini baru berdiri. Kelahiran Muhammadiyah pada tahun 1912 berbarengan dengan era kebangkitan bangsa. Ini misalnya ditandai dengan didirikannya SDI (Sarekat Dagang Islam) –SDI di kemudian hari berubah menjadi SI (Sarekat Islam)— oleh Haji Samanhudi di beberapa tahun sebelumnya.

Selain itu, kehadiran Budi Utomo yang gerakannya tidak tersegmentasi pada urusan keagamaan, tetapi lebih kepada sosial, ekonomi, dan budaya juga menandai momentum kebangkitan bangsa.

Muhammadiyah dan Modernitas

Kembali pada Muhammadiyah, sebagaimana sikap Muhammadiyah yang tidak anti budaya, hal yang sama juga berlaku untuk modernitas, yaitu Muhammadiyah tidak menolak modernitas. Penerimaan Muhammadiyah terhadap modernitas tidak hanya sebatas ujaran saja, melainkah dengan aksi nyata.

Adanya TK, SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi, Rumah Sakit, Masjid, Pondok Pesantren dan amal usaha lainnya yang jumlahnya ribuan dan tersebar di seluruh Indonesia menjadi bukti Muhammadiyah menerima modernitas. Ini menunjukan bahwa di wilayah muamalah duniyawiyah, Muhammadiyah merespon baik modernitas.

Kita lihat, di era modern ini, teknologi menjadi unsur penting dalam kehidupan. Segala sesuatu menjadi bergantung pada teknologi dan serba digital. Dalam hal ini, Muhammadiyah memandang kondisi tersebut sebagai alternatif sarana berdakwah. Muhammadiyah merespon dan memanfaatkan dengan baik perkembangan teknologi ini.

Sebagai tindak lanjut atau aksi nyata menyikapi modernitas yang serba digital itu, Muhammadiyah meluncurkan MOU (Muhammadiyah Online University) yang dipersiapkan sebagai suatu sistem berbasis kuliah online yang mencakup seluruh universitas Muhammadiyah di Indonesia. Selain MOU, untuk kemudahan iuran dan infak bagi warga Muhammadiyah, dibuatlah aplikasi IuranMu.

Pada intinya, Muhammadiyah sangat merespon baik modernitas dan menerima modernitas sebagai suatu proses yang memang harus ditempuh. Akan tetapi, Muhammadiyah mempunyai batasan-batasan yang dijadikan kontrol sebagai upaya dalam menyikapi modernitas.

Ketika peradaban modern dicirikan dengan cara berpikir yang rasional, maka sikap Muhammadiyah adalah membatasinya dengan hukum atau syariat Allah Swt. “Rasionalitas di Muhammadiyah itu adalah rasionalitas yang dibatasi oleh hukum Allah Swt.,” pungkas Majid.

Selanjutnya, tinggal bagaimana kita sebagai kader Muhammadiyah menjadi support system agar Muhammadiyah tetap menjadi organisasi Islam Modern namun tidak tergilas oleh modernitas.

Fastabiqul Khoirat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top