Rumah KITa: Membangun Budaya Keilmuan Berbasis Komunitas

Rumah KITa: Membangun Budaya Keilmuan Berbasis Komunitas. Sebuah kesadaran berfikir bahwa Islam adalah agama dengan budaya keilmuan yang tinggi. Hal ini dibuktikan dengan sumbangsih Islam dalam melahirkan para ilmuwan. Mereka berhasil menciptakan berbagai macam ilmu pengetahuan yang berpengaruh besar terhadap peradaban dunia hingga saat ini. Berbagai penemuan-penemuan ilmuwan muslim dijadikan sebagai rujukan dan sumber bagi perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan.

Kemajuan dalam bidang kedokteran yang saat ini kita rasakan tidak lepas dari ilmuwan muslim yaitu Abu Ali al-Huseyn Abdullah bin Hasan bin Ali bin Sini, atau kita lebih familiar dengan nama Ibnu Sina. Trigonometri dalam pelajaran matematika yang kita pelajari semasa sekolah juga merupakan penemuan besar dari seorang ilmuwan muslim bernama Muhammad Ibn Musa al-Khawarizmi atau Al Khawarizmi. Ada juga Ibnu Khaldun, seorang ilmuwan muslim yang dikenal sebagai bapak historiografi, sosiologi dan ekonomi dengan karya terkenalnya yang berjudul Muqaddimah.

Jika kita menilik bangsa Indonesia, tentu akrab sekali nama-nama seperti Kuntowijoyo, Muslim Abdurrahman, Buya Syafi’i Maarif dan M. Amin Rais. Mereka adalah begawan yang melestarikan dan merawat tradisi keilmuan Islam melalui berbagai karyanya yang diakui dunia. Itu beberapa contoh dari sekian banyak contoh yang membuktikan bahwa islam mempunyai budaya keilmuan yang kuat.

Lahirnya peradaban ilmu bermula dari budaya keilmuan yang mendukung. Diantara langkah strategis yang bisa dilakukan untuk membangun sebuah budaya keilmuan adalah membangun ruang-ruang diskursus. Tidak asing untuk menyebutkan Madrasah Nizhamiyah dan Baitul Hikmah yang lahir dari peradaban Islam dan menjadi pusat pengkajian ilmu pengetahuan.

Hadirnya Rumah KITa

Menilik urgensi agar memiliki ruang diskursus demi terciptanya peradaban ilmu maka dibentuklah komunitas yang diberi nama Rumah KITa. Tentu muncul pertanyaan apa itu Rumah KITa dan kenapa harus diberi nama seperti itu?

Kita bisa memahami secara mendasar bahwa Rumah adalah tempat berkumpulnya keuarga yang memiliki ikatan, tempat berteduh saat terik maupun badai yang menerpa tubuh, serta tempat kembali pulang. Adapun KITa adalah akronim dari Kulliyyah al-Islami at-Taqdimi, yang bermakna Akademi Islam Berkemajuan.

Islam Berkemajuan merupakan identitas yang melekat dalam tubuh organisasi Muhammadiyah. Tidak heran jika IMM maupun Komunitas Rumah KITa mengambil peran menjadi tangki pemikiran Muhammadiyah. Sebab organisasi terbesar di Indonesia ini tidak boleh kering dari cendekiawan yang akan menyokong kaki pergerakan.

Latar Belakang Berdiri Rumah KITa

Sebenarnya ide untuk membuat komunitas ini bermula dari bentuk follow up atau tindak lanjut dari program Progresif Institute yang diadakan oleh Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kab. Sleman.

Ada dorongan yang dirasakan bahwa jangan sampai ruang diskursus dan ilmu yang diperoleh tidak hanya selesai dan habis setelah Progresif Institut seleseai. Sehingga, dibentuk Rumah KITa yang juga anggotanya adalah mereka yang bisa dikatakan alumni Progresif Institute. Namun, dalam setiap diskusi Rumah KITa selalu mengajak semua orang untuk bergabung.

Khoirum Majid, selaku koordinator sekaligus founder dari Rumah KITa mengatakan bahwa kehadiran Rumah KITa menjadi wadah diskusi terutama untuk para kader IMM.  Pemikiran kader IMM harus selalu dikembangkan berkembang, adapun saling bertukar ide dan pikiran adalah metodenya. Di Rumah KITa, semua belajar  dan berbagi ilmu sebab setiap orang adalah guru dan setiap tempat adalah sekolah.

Maksud dan tujuan dari Rumah KITa bukan hanya sekedar tempat kumpul-kumpul, tapi juga sebagai tangki pemikiran yang merepresentasikan Islam Berkemajuan. Hal ini diwujudkan dengan kajian-kajian rutin dan membangun jejaring untuk berkolaborasi.

Kedepannya Rumah KITa dan komisariat IMM yang ada di Sleman harus berkolaborasi, sebab kolaborasi menjadi sarana untuk memperluas jangkauan dialektika. Sehingga harapannya akan muncul generasi islam yang mencintai budaya keilmuan. (Fadhel Izanul)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top